arrow_back Kembali
Renungan 27 June 2016

“Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi.” (Luk. 9:51-62)

“Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi.” (Luk. 9:51-62)



Dalam perikop ini, Yesus mengatakan dengan jelas bahwa untuk menjadi seorang Kristen tidaklah mudah. Seseorang harus mau keluar dari situasi kenyamanan dan berani menyangkal dirinya, demi memberikan tempat yang utama kepada Tuhan. Ajaran Yesus ini bermaksud untuk menempatkan Allah di atas segalanya, melebihi siapapun dan apapun. Artinya, Dia ingin agar kita sepenuhnya siap sedia bagi-Nya, sehingga apapun pengorbanan yang diminta-Nya, dapat kita lakukan. Pendek kata, mengikuti panggilan Kristus berarti tetap berjaga bersama-Nya, tidak jatuh atau bahkan meninggalkan Dia. Dalam khotbah di bukit Mat 5-7, Yesus menjelaskan bahwa seorang Kristen adalah seorang yang percaya kepada Kristus. Iman seperti inilah yang diterima oleh mereka yang telah membiarkan dirinya untuk dibaptis.
Kita memang sudah menjadi kristen karena pembaptisan. Tetapi mengikuti Yesus tetaplah sebuah perjalanan yang penuh tantangan dan tidak mudah untuk mencapai tujuannya. Perjalanan itu menantang karena orang harus siap sedia mengalami situasi buruk apapun di dalam perjalanan. Perjalanan yang tidak jarang membuat kita merasa lelah dan kesepian. Perjalanan yang mengajak kita pula untuk berani keluar dari rasa aman dan nyaman seperti yang telah Dia katakan sendiri: ”Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”.
Perjalanan yang penuh tantangan itu adalah sebuah proses panjang dari pergulatan kita sebagai orang beriman untuk menuju pada sikap hidup sebagai orang beriman yang semakin matang dan dewasa. Dalam menjalani proses tersebut, kita senantiasa diminta untuk terus menerus belajar melepaskan diri dari aneka keterikatan diri yang bisa semakin menjauhkan relasi dengan Dia maupun orang-orang di sekitar kita. Tuntutan seperti ini memang melampaui kemampuan kita. Karena itu, kita perlu rendah hati berdoa memohon rahmat Tuhan supaya kita mampu mengutamakan Kerajaan Allah. Sebab mengikuti Yesus berarti juga selalu siap untuk Kerajaan Allah dan berani berkurban karenanya.
Akhirnya, mengikuti Yesus itu memang tidaklah mudah, tetapi siapapun yang siap mengikuti-Nya harus berani mengarahkan diri kepada Kerajaan Allah. Kita tidak perlu merasa takut dan gentar karena konsekuensi ini. Sebab Yesus sendirilah yang akan berjalan bersama-sama dengan kita. Sekiranya kita mau benar-benar percaya pada Yesus. Sekiranya kita mau belajar menerima penolakan. Sekiranya kita mau belajar melepaskan aneka macam ikatan yang menghalangi kita, Dan sekiranya kita mau diubah oleh sikap dan pikiran Yesus sendiri, kita pasti dipenuhi oleh rahmat Tuhan. Rahmat Tuhanlah yang membuat kita sanggup berjalan mengikuti Dia. Apapun tantangannya, melalui doa dan persahabatan dengan Tuhan, kita harus berani menghadapinya dengan penuh keyakinan besar, yaitu kita tak akan pernah berjalan seorang diri karena Dia ada bersama dan dalam kita. Amin
Rm. Tetra Vici Anantha, CM