arrow_back Kembali
Renungan 14 October 2017

UNDANGAN PERJAMUAN PERKAWINAN

    UNDANGAN PERJAMUAN PERKAWINAN

   
Dalam bacaan pertama Yesaya menggambarkan kelimpahan pesta eskatologis yang ukurannya Allah sendiri. Sedangkan dalam bacaan kedua Paulus berterima kasih karena baik berkelimpahan maupun kekurangan bisa ditanggungnya dalam Kristus. Injil Matius juga menggambarkan Perjamuan perkawinan namun tekanannya lebih pada kesiapan kita.
Pesta merupakan peristiwa yang berarti dalam hidup manusia. Tidak mengherankan bila pengalaman yang berarti digambarkan dalam bentuk lukisan pesta. Pesta itu bermutu tinggi, tamu-2nya terpilih. Gambaran yang mungkin sekali berasal dari lingkungan pesta kenisah dan pesta korban dijadikan semacam parabel peristiwa yang menentukan hidup manusia, yaitu pertemuan dengan Allah di akhir kehidupan.
Pesta itu ternyata bukan hanya bagi orang-2 tertentu, melainkan pesta terbuka bagi segala lingkup masyarakat. Allah memang bukan milik kelompok tertentu, melainkan yang memiliki segalanya. Maka juga Allahlah yang akhirnya mengundang pesta menentukan bagi miliknya. Dalam pesta itu segala jerih payah, duka derita ditinggalkan. Yang ada hanyalah kegembiraan, kebahagiaan dan pertemuan. Gagasan itu digambarkan dengan lukisan penuh haru: menghapus air mata; menghapus aib. Penghakiman Allah ternyata membawa kemerdekaan, keselamatan abadi.”Tuhan Allah akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Ia akan menghapus air mata dari wajah semua orang. Aib umat Nya akan Ia jauhkan dari seluruh bumi, sebab Tuhan telah mengatakannya” (Yes 25:8).
Dalam Injil Mat 22:1-14 dikatakan bahwa Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebagian besar dari bangsa terpilih, yang berabad-abad dipersiapkan menerima kedatangan Mesias, ketika tiba masanya telah bersikap memusuhi hidup dan karya Yesus Kristus. Tempat kosong yang diperuntukkan bagi para undangan pertama, diambil alih oleh mereka yang ada di jalan-jalan, yaitu para orang kafir yang masih dalam jalan mengenal Mesias. Tanpa dinanti dan tanpa hak, mereka mendapat bagian dalam perjamuan kawin, yang dibuat raja untuk “anaknya” (Mat 22:2).
Patut dipertimbangkan, bahwa “semua” datang, “orang-orang baik dan orang-orang jahat” (Mt 22:10), tetapi tidak semua orang jahat dimarahi raja, melainkan hanya seorang yang “tidak berpakaian pesta” (Mat 22:11). Keadaan orang, yang datang tanpa pakai pakaian pesta/perjamuan, dinilai buruk. “orang-orang jahat” karena mengambil bagian dalam perjamuan, dibebaskan dari kesalahannya, sedang yang muncul tanpa pakaian pesta, memang mau ikut makan dan minum, namun toh tidak diperkenankan turut merasakan kegembiraan. Maka dengan kuat ditekankan dalam Injil Matius ini bahwa barang siapa dipanggil, entah itu Yahudi, entah bukan Yahudi, jangan menipu diri dan memastikan dirinya selamat. Juga orang yang dipanggil masih bisa salah dan “dilemparkan dalam kegelapan” (Mat 22:13), jika ia menyombongkan diri. Panggilan adalah Rahmat yang gratis.
Terhadap karya Allah yang agung ini manusia layak bersyukur, mengidungkan perbuatan Allah yang tak ada taranya. Syukur ini perlu mengumandang juga di masa kini, karena karya Allah masih berjalan terus
                                J. Widajaka Pranata, CM