arrow_back Kembali
Renungan 13 March 2017

UMAT KATOLIK PERLU BERSOSIALISASI

UMAT KATOLIK PERLU BERSOSIALISASI

        
Intoleransi menjadi keprihatinan gereja. Hal ini bukannya tidak ada buktinya. Beberapa waktu yang lalu, sekitar 500-an orang dari satu kelompok organisasi keagamaan mendatangi Gereja St. Clara-Bekasi Utara (25/11/2016) dan melakukan aksi demonstrasi. Mereka datang secara bergantian melakukan orasi di depan gereja yang beralamat di Jl. Kaliabang, Bekasi Utara. Para pemimpin demonstrasi secara bergantian menentang perluasan dan pembangunan Gereja St. Clara dengan cara melakukan pelanggaran hukum seperti manipulasi data tandatangan warga yang mendukung pendirian bangunan gereja Katolik. Karena itu, sekali lagi mereka menolak pembangunan gereja St. Clara Bekasi karena data tandatangan warga dimanipulasi pihak Panitia Pembangunan Gereja (PPG).
Aktivis Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menilai gejala yang menunjukkan in-toleransi ini adalah akibat globalisasi. Ini terjadi di hampir seluruh belahan dunia manapun, di tengah perkembangan teknologi era digital. Sebagai umat Katolik, lanjutnya, mau tidak mau menghadapi kenyataan seperti itu. Umat Katolik saat ini sangat pasif dengan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, kalaupun ada kelompok umat Katolik yang aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan jumlahnya sangat sedikit. Umat Katolik disarankan untuk selalu bersosialisasi di tengah masyarakat. Jika sebagai seorang pemimpin, seharusnya merangkul semua golongan. Katolik jangan malu-malu untuk melakukan hal seperti itu. Umat Katolik masih malu-malu untuk bergaul dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Hal ini bisa dilihat di paroki masing-masing masih sangat sedikit umat Katolik yang terlibat dialog keagamaan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Pelayanan keluar dari gedung gereja Katolik merupakan pelayanan wujud bela Negara, bela kemanusiaan. Di lain pihak Negara perlu hadir ketika warga masyarakat menghadapi persoalan. Negara tidak boleh kalah dengan kelompok-kelompok radikal yang mau melecehkan kesatuan bangsa. Apa yang sudah diletakkan para pemimpin Negara, para pendiri Negara ini dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar Negara, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 1945 sebagai harga mati, demi keutuhan bangsa dan Negara. Tantangan ke depan dianjurkan sebagai umat Katolik perlu hidup, bergaul, bersosialisasi dengan seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, suku ras dan golongan. Dengan demikian persaudaraan sejati akan tercipta, toleransi dibangun, dan tetap berada dalam bingkai satu kesatuan NKRI. Ingat bahwa kita ditempatkan di dunia ini agar menjadi garam dan terang. Masing-masing kita diberi Tuhan talenta sesuai dengan visi Ilahi dalam hidup kita. Jadi di manapun kita berada, tempatkan diri kita sebagai “hamba Tuhan” yang melayani orang lain, menjadi berkat bagi keluarga dan masyarakat serta terutama adalah melakukan kebenaran. Jika tidak ada cela yang kita lakukan, tentu sulit bagi orang lain untuk menjatuhkan kita juga.
                                                                                                                                         John Tondowidjojo, CM