arrow_back Kembali
Renungan 21 June 2015

TUHAN YESUS TIDAK TIDUR

Tenggelamnya kapal Titanic telah difilmkan berbagai versi. Beberapa diantaranya menggambarkan misterius, seram, dan digdayanya lautan. Gelapnya malam, gunung es, dan dinginnya samudra menjadi faktor lain yang semakin menimbulkan kengerian lain yang sulit dibayangkan manusia. Manusia menjadi begitu kecil di hadapan perkasanya alam.

Danau Galilea tentu tak sedahsyat Samudra Pasifik atau Atlantik, tetapi dengan keterbatasan teknologi pada jaman Yesus,  ketakutan para murid sangatlah wajar terjadi. Mereka berhadapan dengan kekuatan yang tak tertandingi, yakni gelapnya malam dan kencangnya angin badai. Reaksi spontan mereka adalah dengan panik mencari apapun atau siapapun yang bisa mengatasi   bayang-bayang raksasa maut itu. Mereka ingat akan Yesus, tetapi juga heran campur kecewa melihat Yesus seolah-olah tak peduli akan ketakutan para murid. Yesus menunjukkan kepedulian dan menenangkan para murid. Tindakan ini bukan sekedar aksi penyelamatan sesaat, tetapi dikenang para murid sebagai penyelamatan ilahi yang menggores batin mereka. Untuk itu pula Yesus bertindak, untuk menyatakan kekuasaan dan kemuliaan Allah.

Terkadang dalam kehidupan ini manusia harus berhadapan dengan kekuatan yang tak tertandingi. Kita bisa membayangkan orang yang dihujam kegagalan, orang miskin yang harus berhadapan dengan satpol PP yang sudah bergerak maju untuk segera menggusur rumahnya, orang sakit stadium akhir yang harus berhadapan dengan kemungkinan tipis hidup dan mati, dan sebagainya. Pada kesempatan seperti itu ada yang panik mencari solusi cepat, ada yang kemudian berpaku penuh keyakinan bahwa Tuhan yang maha mampu itu tidaklah tidur, Tuhan Yesus pasti akan menolong.

Sebenarnya kita sebagai pribadi tak luput dari kemungkinan untuk mengalami pengalaman serupa. Sesungguhnya, pengalaman seperti itu adalah batu uji bagi mata hati kita untuk bisa memandang kemaha kuasaan Allah dan kemuliaannya. Namun  getaran rasa takut dan panik dalam batin kadang malah mengarahkan kita kepada kekuatan-kekuatan lain, yang tak sebanding dengan kekuatan Tuhan. Kalau demikian setiap ketakutan sebenarnya adalah panggilan untuk kembali pada yang kuasa.

Kalau Gereja pun kadang digambarkan sebagai bahtera yang terombang-ambing badai, itu berarti kita sama-sama sadar, bahwa sebagai komunitas kita juga adalah kelompok yang selalu berhadapan dengan kemungkinan badai. Semoga setiap badai komunitas semakin memanggil kita untuk mempercayakan komunitas pada Tuhan yang tidak tidur dan siap menolong. (Rm.Ignas, CM)