TUHAN MENGHENDAKI "HATI" MANUSIA
Dalam bacaan pertama, Musa di hadapan bangsa Israel mengingatkan mereka akan hukum-2 Tuhan “Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup, dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu” (Ul 4:1). Tuhan menghendaki agar Hukum-hukum Tuhan hendaknya dijalankan setia “Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaan dan akal budimu di mata bangsa-bangsa” (Ul 4:6).
Dalam bacaan kedua kita nengetahui “Hendaknya kamu menjadi pelaku iman dan tidak hanya pendengar saja, yang menipu diri sendiri” (Yak 1:22). Surat Yakobus ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan harus dinyatakan dalam hubungan dengan sesama. Yesus menolak kesalehan lahiriah dari orang-2 Yahudi yang terlalu formalistis. Yang penting bukannya ketelitian lahir, tetapi sikap jiwa seseorang, yaitu apa saja yang keluar dari hati manusia”Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan dia!” (Mrk 7:15).
Penginjil Markus menguraikan perdebatan Yesus di Galilea. Dalam suatu perdebatan kita menemukan beberapa unsur, yaitu seorang yang menuduh (ahli Kitab, Farisi, kaum Herodian dll). Seorang yang dituduh (Yesus atau muridNya), suatu tuduhan dan pembelaan, yang merupakan puncak prikope ini.
Sebenarnya Yesus tidak menentang Hukum Musa, tetapi menentang permasalahan yang muncul dari Hukum Yahudi dan praktek-praktek kesalehan yang berlebihan. Tradisi, yaitu interpretasi manusiawi, lalu dianggap menjadi lebih penting daripada Hukum itu sendiri. Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri” (Mrk 7:9).
Dalam Injil Suci ini Yesus hendak mengatakan bahwa melaksanakan hukum dan tradisi melulu secara lahiriah tidak mengubah apa pun dalam diri seseorang. Orang tidak menjadi suci hanya dengan membersihkan diri secara lahiriah seperti dicontohkan dalam perikope ini. Dosa-dosa yang disebut Yesus dalam Injil muncul dari hati dan pikiran manusia, yaitu pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, pembunuhan, kesombongan, kebebalan sebenarnya keluar dari hati yang jahat. Inilah yang harus dibersihkan agar manusia menjadi kudus.Orang tidak menjadi kudus dan saleh karena rajin beribadat, tetapi karena hidup jujur, bertanggung jawab dan murah hati. Ibadat sejati adalah ibadat yang dilakukan dalam Roh dan Kebenaran. Kekudusan mengajarkan kita untuk memunculkan kebaikan dalam diri orang lain melalui kasih sayang, belas kasih dan pengampunan. Kita menjadi kudus karena kita adalah salah satu dari umat beriman bersama-sama membutuhkan Rahmat Pengampunan Allah.
Wid,CM