arrow_back Kembali
Renungan 18 June 2015

TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Setelah perayaan Pentakosta Gereja merayakan Allah Tritunggal Mahakudus. Perayaan Allah Tritunggal MahaKudus merupakan perayaan Penghayatan Iman, yaitu Penghayatan Misteri Cinta Kasih Ilahi.

Dalam Bacaan pertama Kitab Ulangan 4:32b-35.39-40 dijelaskan bahwa umat kristiani mengimani Allah yang Esa. Allah umat kristiani adalah Allah Perjanjian, yaitu Allah mengadakan ikatan damai dengan bangsa terpilih;  Allah memperhatikan bangsa tersebut dengan penuh cinta kasih; Allah membina bangsa tersebut keluar dari penindasan dan perbudakan dan menjadikannya  bangsa yang merdeka dan berdaulat. Allah yang diimani oleh umat kristiani adalah Allah yang Agung dan penuh Kasih.

Dalam bacaan kedua Roma 8:14-17 ditekankan kebebasan Anak Allah berkat Roh (ayat 8:1-11), maka harus bertindak di dalam Roh (ayat 12-17). Dengan kehadiran dan keterlibatan Roh itu, seorang kristiani mempunyai kepastian di dalam harapan (ayat 18-30). Di dalam perayaan Allah Tritunggal Kudus, peranan Roh yang menunjukkan identitas kita sebagai anggota keluarga ilahi, hendaknya menjadi landasan memperkembangkan cinta kasih ilahi yang trinitaris dalam hidup sehari-hari.

Injil Matius 28:16-20 ditujukan untuk orang-2 Yahudi Kristen. Rumusan Baptis “atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” diambil dari praktek baptisan jemaat Kristen pertama. Seperti baptisan sendiri berasal dari Kristus, demikian pula rumusan konkrit ini diteruskan kepada kita atas bimbingan Roh Kudus, yang hadir dalam Gereja Kristus.

Untuk membentuk umat Allah baru, Kristus bersabda : “Jadilah segala bangsa muridKu” (Mt 28:19).Dengan ini dinyatakan realitas Gereja, yang meliputi orang Yahudi dan bukan Yahudi. Sangatlah menarik bahwa pada saat Injil Matius ditulis tidak lagi terjadi pertentangan antara orang-2 Yahudi dan bukan Yahudi. Istilah “murid” berarti setiap orang Kristen, yang berkat baptisan menjadi anggota Gereja dan kesetiaannya kepada Kristus dinyatakan dengan menaati perintah-2 Nya.

Tugas Gereja ialah memelihara dan meneruskan seluruh pesan dari Kristus: “memelihara semua yang Kukatakan kepada kamu”. Maka ajaran Gereja tidak boleh berat sebelah atau ekstrim, sehingga tidak mencerminkan keseluruhan ajaran Kristus. Gereja harus mewartakan Kristus seluruhnya, berkenan atau tidak berkenan (2 Tim 4:2). Kristus hadir dalam pewartaan gereja, dalam segala bentuk pewartaan dan pengajaran Iman : “Siapa mendengarkan kamu, juga mendengarkan Aku” (Lk 10:16).

Rahasia Allah Tritunggal Mahakudus, seperti ternyata dalam rumusan baptisan (Mt 28:19) tetap tinggal suatu misteri, tidak dapat dipecahkan oleh pikiran manusia. Iman tentang Allah Tritunggal Maha Kudus tidak boleh dilepaskan dari Karya penyelamatan Allah, seperti ternyata dalam Penjelmaan, kehidupan, kebangkitan dan Kemuliaan  Kristus. (Rm. J. Widajaka, CM.)