arrow_back Kembali
Ruang Katekese 23 March 2017

TOBAT : PUASA, DOA, AMAL

TOBAT : PUASA, DOA, AMAL

Tobat dalam pengertian Kitab Suci pertama-tama adalah berbalik kepadaTuhan (Yoel 2:12). Harus kita akui dalam hidup sehari-hari kita seringkali berbalik dari Tuhan kepada yang lain. Supaya kita dapat bertobat, kembali kepada Tuhan dengan benar, Yesus mengingatkan kita akan resep keagamaan dengan pengertian yang benar. Pada pokoknya Yesus mengatakan supaya kita jangan melakukan ketiga resep tersebut agar dilihat orang, karena tujuan yang utama adalahTuhan. (Mat 6:1-18)
Puasa perlu agar kita sampai kebatin kita, sehingga hanya Tuhan dan suaraNya yang kita dengar. Hiruk pikuk hidup sehari hari sering kita tanggapi terus dengan indra kita, sehingga kita tak pernah masuk kedalam batin kita. Hal yang paling sering kita indrai adalah sesama kita dan tanggapannya, baik secara langsung maupun lewat gadget. Tanpa sadar kita hidup dari kata-kata orang, dan bukan dari sabda Allah. Tanpa sadar kita hidup dari dunia, oleh dunia, untuk dunia dengan segala kepalsuannya. Kita perlu puasa dari apa yang hanya memuaskan nafsu kita agar dapat masuk ke dalam batin kita, mendengarkan jati diri kita dalam nurani kita.
Doa perlu agar kita sampai kepada Tuhan, bukan agar dilihat orang. Oleh karena itu kita perlu masuk ke dalam bilik batin kita. Untuk itu kita perlu menutup pintu batin kita dengan berpuasa dari hingar bingar hidup kita, maka kita akan bertemu dengan Bapa yang ada di tempat tersembunyi, yakni batin kita. Banyak orang kudus memberi kesaksian bahwa mustahil kita dapat berdoa tanpa berpuasa.
Amal perlu agar kita keluar dari ego kita untuk mengasihi secara nyata. Karena Tuhan menciptakan kita oleh kasihNya. Kita hanya dapat hidup dalam kasih. Dan kepada kasihlah hidup kita menuju. Kasih mengarah pada keabadian hidup bersama Tuhan. Sebaliknya hidup dalam ego membuat kita kerdil, kering dan mati,  tidak hidup dan bertumbuh kembang karena menutup diri dari siraman kasih karunia Tuhan. Amal perlu dimulai dengan memberi apa yang ada pada kita, tapi perlu berkembang pada pemberian diri kita. Inilah jalan kasih, inilah jalan Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Pertama Dia Allah memberikan berkatNya, sabdaNya, kemudian Dia memberikan diriNya sendiri dengan menjadi sesama kita. Kita perlu mengamalkan diri kita dengan menjadi sesama bagi saudara-saudari seiman dengan terlibat dalam hidup menggereja. Amal juga membutuhkan puasa. Tanpa puasa dari waktu yang kita gunakan untuk kepentingan diri kita, tak mungkin kita menjadi saudara yang peduli bagi sesama kita, tak mungkin kita peduli pada Allah: “karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20) (Rm. Sad Budi, CM.)