arrow_back Kembali
Renungan 10 September 2017

“TERKADANG TUHAN BERDIAM DIRI BUKAN KARENA IA TIDAK MEMPERHATIKAN; DIA HANYA INGIN MENGUJI KETEKUNAN IMAN KITA KEPADA-NYA” (Mat. 15:21-28)

“TERKADANG TUHAN BERDIAM DIRI BUKAN KARENA IA TIDAK MEMPERHATIKAN; DIA HANYA INGIN MENGUJI KETEKUNAN IMAN KITA KEPADA-NYA” (Mat. 15:21-28)

Tuhan berkenan kepada orang-orang yang dengan tekun mencari Dia. Ketekunan mampu memancarkan seberapa besar keyakinan dan pengharapan seseorang kepada Tuhan. Inilah yang menjadi alas an mengapa Tuhan memuji iman perempuan Kanaan. Ia datang kepada Yesus, memohon kesembuhan bagi anaknya yang sedang kerasukan setan. Namun, apa reaksi Yesus? Yesus tampak tidak peduli. Murid-murid Yesus pun tidak menyukai kehadiran perempuan ini, bahkan meminta supaya Yesus menyuruhnya pergi.
Hebatnya, perempuan Kanaan ini tidak patah arang. Bahkan saat Yesus berkata bahwa Dia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel, ia tetap tidak menyerah. Perempuan ini justru semakin bersemangat mendekati Yesus! Sekali lagi Yesus berkata, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Dan jawaban perempuan ini sungguh menakjubkan Yesus: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Yesus pun demikian takjub dan memuji iman perempuan ini.
Seringkali kita mendapatkan masalah yang bertubi-tubi yang kadang membuat kita mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Tuhan ada di mana saat saya mengalami beragam penderitaa ini? Di sini iman seseorang ditantang, apakah benar bahwa ia sungguh beriman ataukah sebaliknya. Kita diundang oleh kasih-Nya untuk menghampiri Yesus dengan bertekun dan dijiwai oleh semangat pantang menyerah. Bertekun dalam iman yang benar berarti percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan dan terus mencari-Nya sekalipun seolah-olah Tuhan jauh dari hidup kita. Berdoalah dan jangan gampang menyerah. Bergumullah sampai menang.
Akhirnya, beriman saja tidak cukup tetapi haruslah dilengkapi dengan semangat kerendahan hati. Kasihanilah aku ya Tuhan, menandakan kerapuhan kita di hadapan Tuhan sembari kita terus mendekat kepada-Nya. Inilah cara beriman dengan penuh kerendahan hati. Iman semacam ini hanya timbul manakala kita mau dengan rendah hati diajar dan menerima pelajaran untuk bergantung sepenuhnya pada yang Ilahi. Inilah iman yang diajarkan Kristus kepada kita. Amin.
Rm. Tetra Vici Anantha, CM