TANAH YANG DITABURI BIJI
Kalau kita memperhatikan macam-macam tanah, di mana benih jatuh, kita dapat memeriksa kemungkinan pertumbuhan benih di dalam hati dan hidup manusia. 1. Pinggir jalan, batu-batuan dan semak duri. Disebutkan penghambat-penghambat bagi pertumbuhan benih sabda dalam hati manusia. Sabda Tuhan itu dari sendirinya punya daya hidup dan mau bertumbuh, asal diberi kesempatan untuk mulai hidup, menumbuhkan akar, sampai membentuk batang. Tanpa keheningan, hidup dalam rekoleksi, di mana hati manusia dapat sekedar menempel pada hati Tuhan, benih sabda juga tidak bisa melekat pada jiwa : bagaikan ditaburkan dalam angin! Hati manusia ada yang punya kemantapan yang membuat subur, tanah gemuk, ada yang hanya berbatu-batu keras : tidak sungguh ingin akan hal-hal yang dari Allah. Tanpa bunga tanah yang cukup, benih sabda tidak bertumbuh akarnya, kering. Semak duri dapat juga memenuhi humus, tanah gemuk : karena lebih cepat tumbuhnya semak, tanaman alam, maka benih sabda terpaksa kalah, sebab benih sabda membutuhkan pembersihan sekitar, agar batang bisa tumbuh kuat. 2. Buah seratus kali lipat, enam puluh kali, tiga puluh kali lipat. Jika benih sudah tumbuh, berakar dan berbatang, maka ada yang menjadi rumpun besar, sedang, kecil tetapi semua akan berbuah. Jangan ini hanya dinilai sebagai hasil usaha, buah ketekunan manusia! Dalam setiap perumpamaan – talenta (bakat) misalnya Tuhan membiarkan adanya perbedaan dalam keberhasilan, tanpa keterangan lebih lanjut. Tuhan masih punya dan tetap mempertahankan kebebasannya sebagai Allah yang memilih siapa yang Ia kehendaki, memberi menurut ukuran yang Ia kehendaki “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? (Mat. 20,15) kata tuan kebun anggur itu. Siapkanlah hati terbuka, sedia untuk menerima taburan dengan kemauan setia, dan Tuhan mahakasih akan memberi kesuburan dan buah berlimpah kepada orang yang rendah hati.
John Tondowidjojo, CM