SYUKUR DAN SUKACITA
Bacaan Pertama Kisah Para Rasul bab 10:25-26.34-35.44-48 berbicara tentang nilai karya penyelamatan Allah yang berlaku bagi semua orang. “Yesus Kristus adalah Tuhan semua orang”. Berkat kekuatan Roh Kudus Gereja melepaskan diri dari ikatan adat Yahudi dan bergerak lebih merdeka serta dewasa. Kiranya Gereja membiarkan dirinya dibina oleh Roh Kristus ini. Gereja memiliki kewajiban membuka diri bagi semua orang demi Karya Keselamatan Allah dan setia kepada cita-cita Kristus.
Bacaan Kedua 1 Yoh 4:7-10 memberikan variasi lain dalam membicarakan tema cinta kasih. Dalam bacaan ini asal usul cinta kasih sejati sangat ditekankan: “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anak Nya sebagai perdamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yoh 4:10).
Allah adalah Cinta Kasih. Karena itu Allah mengutus Putera Nya untuk mencintai manusia secara habis-habisan (lih. Yoh 10:11). Allah menyerahkan Diri bagi Keselamatan manusia. Di dalam mengaruniakan Diri Nya Allah menanggung resiko ditolak, dihadapi semena-mena, dihina dan tidak dipahami. Namun Ia adalah Pencinta ulung, yang tidak kehabisan inisiatip untuk tetap mencinta manusia. Orang kristen harus memiliki identitas yang diwarnai oleh cinta kasih ilahi yang demikian. Maka di dalam hidup orang beriman tidak pernah patah hati dan putus asa mencinta sesamanya. Dengan demikian orang kristiani menyatakan cinta kasih di dalam dirinya.
Injil sebetulnya meneruskan tema yang sama, meskipun gaya pembicaraannya lain. Dimana ada cinta kasih, di situ terdapat kegembiraan.Orang yang menerima Kasih Kristus dan memperkembangkannya di dalam dirinya, mendapatkan kegembiraan persekutuan ilahi. Di situ hubungan tidak lagi bersendi pada patokan dan tuntutan yakni kamu harus ini atau harus itu, melainkan bersendi kesadaran untuk berkenan kepada yang mencintai. Hubungan ini ditentukan oleh jawaban yang disampaikan berkat Tawaran KASIH ALLAH.
Yesus menganggp hidup Nya sebagai Pelaksanaan dari Kehendak Bapa. “Menghasilkan buah” tumbuh dari kesadaran untuk melaksanakan kehendak Bapa, yang dijiwai dengan semangat kasih. Hidup dan kematian di salib menurut Yesus sendiri timbul dari cinta Nya. Hal ini dikemukakan kepada para rasul Nya, agar mereka berlaku demikian juga “......seperti Aku menaati perintah Bapa dan tinggal dalam cinya kasih Nya” (Yoh 15:10).
Dalam Injil, Tuhan mengatakan bahwa kita sekalian adalah sahabat-sahabat Nya, jika kita memenuhi perintah Nya (Yoh 15:14). Saat kita mengikuti apa yang diajakanNya maka sukacita kita pun menjadi penuh. Mengikuti dan menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan berarti bahwa kita membangun relasi kasih dengan Tuhan. Selama kita memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, maka kita akan tinggal dalam kasih Nya. Dan hidup kita menjadi tenang, penuh kebaikan dan sukacita. Ketenangan, kebaikan dan sukacita merupakan buah dari Kasih.
Setiap kebaikan dan sukacita tidak akan pernah berhenti pada diri kita sendiri, karena sukacita dan kebaikan pada dasarnya adalah pemberian dari Tuhan yang perlu kita bagikan kepada sesama kita. Persahabatan yang sungguh-sungguh menurut kata Yesus sendiri berarti bersedia untuk mengorbankan hidup.Persahabatan yang sungguh-sungguh menurut Yesus sendiri bersedia untuk mengorbankan hidup.
Dengan hati-hati para rasul menyerukan Panggilan dan Kekuasaan yang diberikan oleh Yesus sendiri (Yoh 15:16). Jabatan rasul bukanlah atas kuasa sendiri. Yang pokok bukannya memerintah melainkan mengabdi dan inilah yang ditekankan oleh Yesus. Rasul dipilih dan dipanggil oleh Yesus untuk menjadi Pelayan Sabda Nya. Tugas memerintah dalam Gereja selalu mewujudkan tugas untuk pengabdian dan pelayanan bagi Kristus dan bagi Umat Allah. “Inilah perintah Ku bagi kamu hendaknya kamu saling mengasihi “ (Yoh 15:17).
Salam Kasih,
Rm J. Widajaka CM