SIKAP BIJAK DALAM HIDUP
"Males ah, untuk apa sich dan apa untung-nya?" jawab seorang warga ketika diajak untuk pendalaman iman BKSN-2018 bersama umat di lingkungan. Jelas, penempatan sikap ini kurang bijak dan sangat merugikan diri sendiri. Mengapa demikian? Mungkin ia merasa tidak membutuhkan untuk 'menghidupi' imannya bersama sesama di lingkungan. Inilah benih awal seseorang menarik diri dan mulai menyempitkan pandangannya - eksklusive, merasa diri sudah 'cukup'' sehingga tak perlu lagi berusaha dan berkorban melawan malasnya. Seandainya ia lebih serius memandang hidup imannya, penolakan atas ajakan itu tentu akan dipikirkan kembali. Bukankah hidup Kristen itu suatu proses perjuangan sepanjang hidup dan serius. Dan bukan hanya serius tapi juga harus bersikap bijak, terbuka bagi orang lain. Bukankah iman akan berkembang bersama orang lain dan tidak ada iman hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk pewartaan sebagai perwujudan tugas pewartaan Gereja.
Kebijaksanaan hidup seorang beriman, tercermin dari bagaima-na cara dia 'menghidupi' imannya. Ingat, tiada orang kristen sejati tanpa salib dan tanpa kesetiaan pribadi pada Kristus. 'Barangsiapa tak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku' . Artinya komitmen kita kepada Yesus sebagai pengikut-Nya, haruslah sungguh-sungguh dan penuh, tidak boleh setengah-setengah. Bukankah kita telah memilih Dia sebagai jalan, kebenaran dan hidup? Dan tuntutan-Nya sudah sangat jelas, tinggal kita mau melaksanakan secara maksimal atau tidak.
Kita tahu dan bahkan sadar bahwa memanggul salib kehidupan bersama Kristus memang berat tetapi itulah jalan yang kita pilih menuju ke kehidupan. Kita sebagai murid Yesus tidak boleh melekat-kan diri pada harta kekayaan, pada kekuasaan dan kehormatan. Hubungan kita dengan barang-barang dunia harus dilihat dalam terang hubungan kita dengan Kristus. Dan semua ini membutuh-kan pengorbanan, penyangkalan diri. Apabila ini terjadi, maka kita akan memahami bahwa dalam Kristus, segala-galanya menjadi serba sementara, relatif dan tak boleh dimutlakkan. Di sinilah Roh Allah sungguh berkarya dalam hidup kita, sehingga membuat kita lebih bijak dalam menjalani dan mempertanggungjawabkan hidup ini.
Saudaraku, salib yang Anda pikul sudah sesuai dengan kekuatan Anda. Apakah Anda sudah siap memikulnya?