SIAPA YANG TERBESAR?
Pembaca yang budiman, pada minggu ini dalam bacaan injil, kita melihat sebuah panorama hidup para rasul yang agak mengecewakan, mengapa? Di saat sang guru sedang mengisahkan tentang akhir hidupnya. Para murid sibuk menentukan tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Satu per satu para murid mulai menampilkan kelebihannya dibandingkan dengan yang lain. (Mrk 9: 34)
Kita dalam momen tertentu juga pernah seperti para murid, yaitu suka menghitung-hitung segala sesuatu termasuk atas apa yang telah kita kerjakan demi kebaikan orang lain. Mengapa semua hal itu terjadi? Semua hal itu terjadi karena kita manusia masih memiliki dalam diri rasa iri dan mementingkan diri sendiri. Dua hal ini, rasa iri dan mementingkan diri menjadikan kita berada jauh dengan yang lain. Selain itu juga dapat menjadikan kita merasa asing bahkan dengan lingkungan di sekitar kita.
Pada sebuah kesempatan saya pernah menjumpai seorang teman yang merasa marah terhadap adiknya lantaran cinta yang diberikan orang tua lebih besar kepada sang adik. Hal ini membuat ia kerap bersitegang dengan orang tuanya dan menjadikan game online sebagai pelarian. Alhasil ia jarang di rumah dan mulai berkenalan dengan banyak teman-teman yang semakin menjerumuskannya pada pergaulan bebas.
Panorama seperti di atas tentu pernah anda jumpai dalam hidup sehari-hari. Tapi mari kita bertolak ke tempat yang lebih dalam. Apakah benar orang tua anak tersebut tidak mencintai sang kakak? Apakah mereka benar-benar menghempaskan sang kakak? Tentu tidak demikian keadaannya. Dalam kondisi apapun yang namanya orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada anaknya. Persoalannya apakah sang anak menyadari hal tersebut? Apakah sang anak menyadari posisi atau persoalan orang tuanya?
Yesus dalam bacaan injil ini menampilkan sosok anak kecil dan polos. Anak kecil yang bagi Yesus adalah sebuah teladan. Teladan bagi para rasul dan kita untuk dapat menghilangkan rasa iri dan mementingkan diri sendiri. Seorang anak kecil yang polos tidak akan pernah berlarut-larut bertengkar dengan temannya. Seorang anak kecil yang polos mau berbagi dengan temannya walau hanya sedikit.
Kita yang telah dewasa dan terbentuk oleh berbagai macam latar belakang dan pengalaman hendaknya mampu belajar dari seorang anak kecil yang polos dan menyukakan hati orang-orang yang berada di dekatnya. Hal ini memang tidak mudah. Tidak mudah bagi kita untuk melihat teman-teman kita mendapatkan segala sesuatu yang menyenangkan sedangkan kita hanya sebatas itu-itu saja.
Namun hal tersebut bukan berarti tidak mungkin. Kita bisa meminta bantuan Allah yang melalui Roh KudusNya akan menurunkan hikmatnya kepada kita, asal kita memintanya demi menciptakan situasi atau keadaan yang damai (Yak 3: 16-18). Dengan begitu kita tidak akan pertama-tama merasa diri paling baik, paling berjasa dan paling segalanya dibandingkan dengan yang lain. Pertanyaannya ialah siapkah anda untuk mengikuti Yesus sama seperti anak kecil dalam perumpaan-Nya? Siapkah anda tidak dianggap walaupun telah membantu orang lain yang membutuhkan? Siapkah anda apabila semua jabatan dan posisi yang ada pada anda diberikan kepada orang lain? Biarkan semua itu bekerja dalam bimbingan Rahmat Allah yang turun dari atas. Tuhan memberkati. (AP)