SELAMAT TAHUN BARU 2018
Kita sudah memasuki tahun baru-tahun 2018. Kita tahu bahwa bumi ini telah berputar selama 365 hari pada sumbunya atau satu kali bumi mengitari matahari dan kita mengatakan waktu setahun telah berlalu. Inilah soal hitungan manusia yang sudah berlaku sejak dulu. Lalu kalau demikian adanya, bagi kita apanya yang baru? Semuanya berjalan seperti biasa, tak ada yang baru?! Semua biasa-biasa saja!
Pergantian tahun, selalu mengajak kita menyadari akan waktu. Waktu itu terdiri dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa yang lalu telah lewat dan itu berarti ‘sudah tidak ada’. Sedangkan masa depan, masa yang akan datang, belum kita alami, dan itu berarti belum ada. Mengapa kita mengatakan demikian? Karena kita sadar, saat ini berada pada masa sekarang. Kesadaran kita akan hidup di dalam waktu inilah salah satu keunggulan kita yang membedakan kita dengan binatang. Jadi, hanya manusia ciptaan-Nya yang mampu menghitung adanya ‘tahun baru’ karena manusia diberi kemampuan untuk dapat mempertanggung-jawabkan hidupnya dan imannya pada Sang Pencipta, yakni Allah. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita bersyukur akan masa lalu - tahun 2017, sekalipun mungkin banyak peristiwa pahit di sepanjang tahun, kita tak perlu meratapi, menyesali, dan menangisinya karena semuanya telah berlalu. Jadikanlah tahun 2017 yang sudah berlalu ini sebagai pelajaran yang sangat berharga dan ambillah hikmahnya. Dan berdasarkan itu pula, kita mulai merencanakan untuk masa depan yang lebih indah di tahun 2018. Kegagalan, keberhasilan, suka-duka di tahun 2017 merupakan sejarah kehidupan kita sebagai manusia yang sadar akan perjalanan waktu yang membuat hidup kita menjadi makin bijak dalam menapaki kehidupan selanjutnya dalam waktu yang masih tersedia bagi kita untuk mengukir sejarah kehidupan menjadi lebih bermakna. Inilah sebabnya mengapa kita hendak menyambut, merayakan dan terlebih mensyukuri tahun yang baru.
Lalu, apa arti semua itu bagi kita sebagai manusia beriman kristiani, dalam menapaki tahun yang baru ini? Dalam iman kristiani, kita mengenal, memiliki tiga keutamaan teologal, yakni iman, harapan dan kasih yang merupakan arah dasar hidup kita yang sungguh fundamental sebagai pengikut Kristus.
Iman memiliki segi masa lampau, sedang harapan berdemensi masa depan. Namun, iman dan harapan akan tanpa arti bila tiada cinta kasih, karena cinta adalah aktualisasi dan realisasi dari iman. Dan cinta pula yang mengarahkan iman itu dalam kesetiaan menuju masa depan yang ber-pengharapan. Maka, cinta sungguh merupakan dinamika dari iman, yang mengantisipasi kepada hidup yang lebih indah, lebih baik, lebih dewasa, lebih bahagia, lebih sempurna dan lebih bijaksana dalam menjalani hidup dari waktu ke waktu. Dengan demikian, iman kita akan selalu aktual dan relevan, tidak dapat dikatakan sudah ketinggalan zaman.
Hidup dalam cinta menuju masa depan yang penuh harapan itu bagi kita sebagai orang beriman kristiani merupakan pola hidup dalam Kristus Yesus, karena Yesus ada dalam Allah dan Allah adalah cinta. Inilah arah dasar kehidupan yang seharusnya kita miliki sebagai orang beriman yakni menuju masa depan yang sejati bersama Kristus, Sang Damai.
Kedamaian ini bukan semata-mata terbatas pada ketenangan jiwa secara pribadi saja, melainkan mempunyai relasi penuh cinta baik kepada Allah maupun kepada sesama. Cinta kepada sesama dan kepada Allah adalah satu. Oleh karena itu, hal yang tidak boleh terjadi bila kita sebagai orang beriman kristiani merasa diri mencintai Allah, namun mem-benci sesamanya. Atau sebaliknya, merasa men-cintai sesama, namun membenci Allah pencipta semua manusia. Jadi, hendaknya kedamaian itu menjadi kerinduan kita bersama yang lahir dari dalam lubuk hati yang terdalam. Kalau demikian adanya diri kita ini, apakah kita memutuskan untuk mewujud-nyatakan damai-Nya kepada sesama, di tahun mendatang? Selamat Tahun Baru 2018. (Hd.)