SABDA TUHAN BAGI NEGERI
Beberapa bulan terakhir dan ke depan, negara-bangsa Indonesia telah memulai dan akan melaksanakan pesta demokrasi. Pemilihan Umum. Berkaca dari sejarah, apa yang terjadi selama ini (dalam pesta demokrasi), bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Beberapa oknum dari masing-masing kubu pasangan calon pemimpin, entah itu di taraf kota hingga nasional, tak terlalu fokus pada visi dan misi yang hendak “dijual”. Masing-masing berlomba mencari “aib” yang bisa digunakan untuk menjatuhkan kubu lawan. Yang terjadi ialah kekacauan di dalam negeri Indonesia tercinta ini. Isu SARA diangkat, isu politik ekonomi (kekayaan yang hanya dikuasai oleh segelintir golongan) juga digoreng. Semuanya dilakukan demi mendapatkan kekuasaan. Padahal, sebagaimana dikatakan oleh Tri Rismaharini dalam salah satu acara talkshow bersama dengan Najwa Shihab, kekuasaan adalah amanah. Kekuasaan adalah janji untuk melayani, bukan untuk menguasai. Dan bukankah Tuhan Yesus sendiri yang berkata seperti ini minggu yang lalu (bdk. Mrk 9:35)?
Beberapa oknum dari pendukung para pemimpin negeri ini tidak begitu menyadari bahwa bagian terpenting dari sebuah kepemimpinan adalah kebaikan bersama; membawa Indonesia menjadi semakin baik (mandiri, rukun, beriman dan bertakwa). Namun, karena kepentingan masing-masing, mimpi demikian harus disingkirkan terlebih dahulu. Kepentingan kelompok/golongan-”ku” harus didahulukan.
Maka kata-kata Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini sungguh sangat bergema. Para murid kebakaran jenggot manakala ada orang lain yang mengusir setan dengan nama Tuhan Yesus. Mereka merasa eksistensi mereka sedang digoncang. Mereka takut kalau-kalau kelompok mereka tak lagi eksis. Dan mereka lupa akan apa yang menjadi visi Tuhan Yesus di dunia: Membangun Kerajaan Allah. Mereka kemudian melapor kepada Tuhan Yesus bahwa orang-orang tersebut sudah mereka cegah. Tapi apa yang kemudian dikatakan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus berkata, “Jangan kamu cegah dia! Sebab tak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:39-40).
Selama apa yang dilakukan oleh orang itu membawa kebaikan bagi sesama. Selama apa yang dilakukan oleh orang lain tersebut membuat banyak orang mengamini bahwa Tuhan Allah itu nyata dalam hidup mereka. Mereka tidak sedang melawan Tuhan Yesus. Justru mereka turut serta dalam meluaskan Kerajaan Allah.
Kembali dalam konteks negara ini. Tidak penting siapa yang memimpin. Sejauh dia orang yang baik, kompeten, jujur, memiliki perhatian yang besar untuk dan rekam jejak yang nyata dalam membangun negeri ini, sangat layak untuk menjadi pemimpin negeri. Jangan sampai mimpi luhur ini harus sirna karena kepentingan diri sendiri. (ykc).