arrow_back Kembali
Renungan 23 August 2017

SABDA ALLAH

SABDA ALLAH


Kita masih sering melihat sabda Allah sebagai kebutuhan kita yang nomor sekian. Hanya kalau kita benar-benar nganggur mungkin kita baru membolak balik Kitab Suci. Padahal kita ini tercipta oleh sabda Allah, dan Allah juga mau memelihara kita dengan sabdaNya. Tanpa sabdaNya kita tidak bisa hidup sepenuhnya, tidak bisa bahagia sepenuhnya, tak bisa bertumbuh kembang sepenuhnya. Apa sebenarnya yang menghalangi kita untuk hidup dari sabda Allah? Apa yang disampaikan Yesus dalam injil tentang sang penabur hari ini sangat relevan untuk hidup kita jaman ini.
Pertama, karena kita tak pernah peduli akan sabda Allah. Ketika Tuhan berbicara dengan kita, kita lebih tertarik memperhatikan hal hal lain yang memang secara indrawi lebih menarik, apalagi sekarang dengan gadget atau telepon cerdas yang selalu setia menemani kita. Sabda itu seperti benih yang jatuh dijalan, yang segera lenyap tanpa bekas dimakan burung.
Kedua, karena kita lebih peduli dengan pikiran dan kepentingan kita sendiri sehingga tidak sungguh membuka hati kita untuk menerima sabda itu secara mendalam. Kita mendengarkan sabda itu lewat kotbah, atau tayangan di media sosial, kita tersentuh bahkan mungkin membagikan atau meneruskannya kepada teman teman kita. Namun cuma sekedar itu, kita tidak sungguh merenungkan dan membiarkan sabda itu meresap dan mengubah hidup kita, karena hati kita laksana tanah berbatu.
Ketiga, karena kita lebih dikuasai oleh harta dan kekuatiran kita. Kita mendengarkan sabda Tuhan dan berniat menumbuhkannya, termasuk dalam niat kita untuk melayani. Namun keterikatan kita pada harta dan kekuatiran kita yang lain, membuat niat baik yang ditumbuhkan sabda itu terhimpit, dan akhirnya mati kurus tanpa berbuah dalam hidup kita.
Hanya kalau kita sungguh mau mendengarkan, memahami, meresapkan, dan mewujudkannya, maka sabda Allah itu akan sungguh menguasai dan bekerja dalam hidup kita sehingga berbuah banyak, bukan hanya untuk kesejahteraan kita, namun juga keselamatan dan kesejahteraan sesama. Membiarkan sabda itu bekerja dalam hidup kita, dibimbing olehnya membuka kemungkinan yang luar biasa, yang tak terpikirkan oleh kita sendiri: “Sesungguhnya barang siapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12)
Hanya dengan hidup dari sabda Allah kita dapat mencapai kepenuhan hidup kita sebagai citra Allah, bahkan anak Allah sendiri. Itulah janji Tuhan bagi kita, yang hanya mungkin terwujud kalau kita membuka hati dan hidup kita pada sabdaNya: “Ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia sia, tetapi  akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,  dan akan berhasil dalam apa yang kusuruhkan kepadanya.” (sadbudi)