arrow_back Kembali
Renungan 31 July 2017

ROTI HIDUP

ROTI  HIDUP


Umat Israel dibawaTuhan dari Mesir ke Tanah Terjanji melewati padang gurun selama 40 tahun. Mengapa demikian lama di padang gurun? Karena Tuhan ingin merendahkan hati mereka, menguji mereka untuk memurnikan hati mereka. Tuhan memberi mereka makan manna yang tidak mereka kenal untuk membuat mereka mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari segala yang diucapkan Tuhan. Makanan jasmani memang sering membuat kita mengabaikan makanan rohani, yakni sabdaTuhan. Terlalu tenggelam dalam mencari nafkah jasmani, memang sering membuat kita mengabaikan urusan rohani.
Yesus adalah roti hidup yang turun dari surga. Berbeda dengan manna yang tidak dikenal, Yesus adalah pribadi yang kita kenal. Sabda Allah telah menjadi manusia, menjadi roti hidup. Dan kita diundang untuk memakanNya, untuk hidup dari hidupNya: Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia. Dengan ini Yesus mau agar kita yang makan tubuhNya juga hidup seperti Dia. Dia ingin kita melihat urusan jasmani maupun rohani sebagai satu kesatuan sebagaimana nyata dalam kehidupanNya. Relasi dengan Tuhan harus dinyatakan juga dalam urusan jasmani/duniawi.
Pemisahan ini sering membuat kita berusaha suci dalam urusan rohani, yakni sekitar doa dan peribadatan, namun semau kita sendiri dalam menjalankan urusan duniawi. Banyak orang meyakini kekudusan hanya di bidang rohani, itu memang wilayah Tuhan. Namun untuk bisnis sehari hari orang mau pakai aturannya sendiri, aturan yang seringkali kotor, jauh dari cintakasih. Kita sering berpikir bahwa keduanya tak dapat didamaikan. Bisnis tak mungkin berhasil kalau memperhatikan moral, politik tak mungkin menang kalau mau pakai moral. Pikiran inilah yang membuat dunia kita menjadi semakin bobrok dan kejam. Inilah yang membuat banyak orang bisnis begitu kejam, dan politikus begitu bobrok.
Yesus mau membangun Kerajaan Allah bukan kelak di surga, namun di atas bumi ini agar menjadi seperti di dalam surga. Untuk itulah Dia mengorbankan diriNya sendiri. Dan kita yang mau makan tubuhNya juga diajak untuk berjuang bersamaNya, membangun Kerajaan Allah di atas bumi ini. Mungkinkah? Kita semua menginginkan dunia yang adil sejahtera dibangun oleh politikus dan pelaku bisnis yang bermoral, yang sungguh mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan bersama. Untuk itu tidak cukup kita hanya berdoa. Kita perlu membangun sikap mau melayani, bukan mau dilayani; mau berbagi, bukan serakah; mau berkorban, bukan mengorbankan orang lain. Sikap-sikap seperti inilah yang kita tanamkan pada anak-anak kita yang mau menyambut Tubuh dan Darah Tuhan. Namun mungkinkah kita menanamkan sikap-sikap tersebut, kalau kita sendiri tidak bertobat dan menjadi teladan hidup bagi mereka? (sad)