RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH I
Minggu ini kita memasuki Minggu Prapaskah I, bersama bacaan minggu ini, kita diundang untuk secara lebih khusus menghayati perjalanan hidup iman kita di tengah-tengah kehidupan nyata. Sebagai orang yang sudah menerima anugerah sakramen pembaptisan, tidak ada peristiwa kehidupan ini yang terjadi kebetulan. Karena rahmat sakramen pembaptisan itulah, kita memperoleh kekuatan untuk memaknai peristiwa kehidupan yang kita alami sebagai bagian dari pendewasaan iman kita. Dalam pembaptisan, kita dipersatukan dengan penyaliban Yesus yang membersihkan dosa kita dan membersihkan hati nurani kita untuk membuat pilihan hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Oleh karena itu bersama Rasul Petrus, kita diajak mensyukuri pembaptisan kita yang telah menyelamatkan manusia bukan karena kekuatan jasmani, tetapi karena anugerah hati nurani yang dikaruniakan kepada kita. (1Ptr 3:21-22) Hati nurani yang terarah kepada Tuhan memampukan manusia menapaki perjalanan hidup dalam rahmat kebaikan dan kebenaran.
Perjalanan hidup manusia adalah bagian dari perjalanan Yesus di padang gurun dan mengalami pencobaan. (Mrk 1:12-13) Padang gurun saat ini adalah segala bentuk pergumulan hidup kita setiap hari. Kesulitan ekonomi yang kita alami dalam keluarga, persoalan kepedulian social ditengah masyarakat, situasi politik yang belum stabil di negeri ini. Bahkan dengan munculnya aksi sekelompok orang yang menebarkan terror kebencian, ancaman, permusuhan dan kekerasan. Semua godaan yang dialami Yesus adalah godaan yang kita alami secara pribadi saat ini yakni kuasa, harta dan kehormatan. Iblis selalu ada dan siap menggoda kita. Ini adalah godaan yang paling nyata. Apakah kita tetap setia selamanya berpegang pada hati nurani kita yang terarah pada Yesus atau meningggalkanNya? Barangsiapa yang setia kepada Yesus akan memperoleh kelegaan jiwanya. Ketika manusia setia untuk mengarahkan hati nuraninya kepada Tuhan dan semakin besar godaan yang dialaminya, semakin besar kekuatan yang akan dikaruniakan Tuhan bagi manusia untuk menghadapinya. Pergulatan melawan godaan ini merupakan perjuagan kita terus menerus sebagaimana pernah dikatakan Paus Benediktus XVI: “Setiap hari orang Kristen harus menghadapi perjuangan seperti yang dialami Kristus di padang gurun di Yudea. Di sana selama empat puluh hari, Dia dicobai oleh setan. Ini merupakan pertempuran rohani yang dipertaruhkan melawan dosa dan akhirnya, melawan setan. Hal ini merupakan perjuangan yang melibatkan keseluruhan pribadi dan menuntut perhatian dan kewaspadaan terus menerus.”
Agar kita senantiasa mengarahkan hati nurani kita kepada Tuhan, kita perlu mengalami pertobatan dari waktu ke waktu. Bertobat dan percaya pada Sabda Tuhan. (Mrk 1: 15). Bertobat bukan hanya mengubah yang jahat menjadi baik, tetapi bertobat untuk berbalik kepada Tuhan dalam cara pikir, cara hidup, keadaan bathin menuju kepada Tuhan. Masa prapaskah ini menjadi kesempatan yang diberikan kepada kita, agar sejenak kita”bercermin”. Melalui pantang dan puasa, kita bercermin apakah selama ini kita hidup hanya untuk kepentingan, kepuasan dan keselamatan diri sendiri. Atau kita hidup untuk “neges kersaning Gusti” (mencari kehendak Tuhan) dan menjadi berkat bagi sesama dan seluruh ciptaan.
Rm. Agustinus Dodik Ristanto, CM