arrow_back Kembali
Renungan 27 October 2016

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXVI

  RENUNGAN  HARI  MINGGU  BIASA  XXVI

Ketika peti jenazah akan diberangkatkan ke pemakaman, tradisi orang desa mengadakan semacam upacara singkat setelah upacara keagamaan. Misalnya pemimpin upacara mengatakan demikian : "Menurut bapak dan ibu, almarhum bapak/ ibu  X ini, Baik atau Jahat ?" Serentak dijawab oleh para pelayat : "Baik !" "Sekali lagi, Menurut bapak dan ibu almarhum bapak/ ibu X ini Jahat atau  Baik ?" Lalu dijawab oleh pelayat: "Baik !" "Terimakasih marilah kita hantarkan  kereta jenazah ke pemakaman."
Rasanya kalau mendengar pertanyaan pemimpin pemakaman ala desa ini, sepertinya kita diingatkan  seperti dalam kitab Amos ini : "yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! "(Am.6:6). Kerajaan Israel waktu itu mengalami kejayaan materiel, tetapi disisi lain mereka membiarkan diri di cengkeram dosa dan tidak peduli terhadap yang miskin dan lemah.
Mereka mempunyai kuasa dan kemakmuran, tetapi sudah menjadi puas dengan dosa mereka. Mereka percaya bahwa keberhasilan materiel mereka membuktikan bahwa mereka hidup di bawah berkat Allah; mereka merasa yakin bahwa hukuman Allah takkan pernah datang. Demikian pula, kemakmuran dan gaya hidup yang menyenangkan dapat membuat kita hanyut dalam gaya hidup duniawi di mana kerinduan yang mendalam dan tetap akan Allah tidak ada lagi. Daripada hidup berbahagia dengan kemewahan materiel, bangsa Israel seharusnya meratapi dosa-dosa bangsa itu dan malapetaka yang akan segera datang. Mereka yang merasa sedih karena dosa-dosa umat itu akan lolos dari hukuman Allah. Pemazmur mengingatkan :"yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung" (Mzm.146:7) Seperti halnya nasehat St.Paulus :"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi." (1 Tim 6:11-12)
Hidup kekal bersama Allah Bapa di Surga mestinya menjadi prioritas hidup kita, bukan mengejar kematian dan dosa. Jadilah orang kaya yang tetap takut akan ketidakpedulian sosial. Menjadi orang kaya tetapi tetap peduli terhadap sesamanya yang kekurangan, itulah modal masuk dalam kerajaan bersama bapa Abraham dan Musa. "Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati"( Luk.16:31 )
Pertanyaan dalam hati kita masing masing:” Aku termasuk orang yang peduli, dan berbelarasa terhadap sesama yang lemah atau sebaliknya, aku hanya mengejar  kenikmatan duniawi dan setelah itu akan  hancur? Kita termasuk yang Jahat atau yang Baik ? (th.)