RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXIX - HARI MINGGU MISI
“Anak manusia datang memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang“(Mrk 10:45)
Injil Markus 10:35-45 berakhir dengan kalimat bahwa Yesus datang “untuk menyerahkan nyawa Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45). Ide ini menunjuk kembali pada lagu tentang Hamba Tuhan, yang menderita dengan menggantikan banyak orang (Yes 53). Lagu ini melukiskan sengsara dan kematian hamba yang paling hina. Menurut pandangan jaman itu penderitaan merupakan akibat dosa, tetapi dalam hal ini bukan akibat dosa hamba sendiri, sebab ia sendiri benar, tetapi akibat kejahatan orang-orang lain, kaum pemberintak Israel. Penyakit merekalah yang ditanggung oleh Hamba.
Pada hari Minggu ini dibacakan dua ayat dari lagu itu. Ayat 10 mulai menetapkan, bahwa nasib malang si hamba tidak kebetulan saja, atau suatu kekeliruan, tetapi memang rencana Tuhan. Ia harus menderita demi kepentingan orang lain. Penderitaan Nya membawa hasil besar. Mata banyak orang lain dari Israel dan dari bangsa-bangsa lain akan terbuka, waktu mereka melihat kesengsaraan Hamba Tuhan, yng tidak malu untuk menggantikan orang-orang jahat dan memikul dosa mereka.
Dalam bacaan kedua Ibr 4:14-16, orang-2 kristiani bekas Yahudi dipaksa melarikan diri dari Yerusalem. Untuk menghibur, pengarang menyadarkan mereka bahwa hubungan dengan imam dan korban Yahudi tidak terputus melainkan ditingkatkan dalam Kristus. Imam Agung yang benar adalah Kristus.
Ayat 14 mengutip syahadat: Yesus melintasi semua langit. Dia itulah pengantara dan imam. Gagasan pemikiran begini: Kristus sebagai manusia sungguh-sungguh mewakili manusia. Sebagai Putera Allah Dia mewakili pula pihak Allah. Jadi Dia adalah pengantara yang sejati.
Yesus dicobai. Godaan malahan disebut kesempatan untuk turut merasakan kelemahan kita. Sejauh manakah kita menerima kemanusiaan Yesus? Apakah kita mampu menerima sang tokoh yang digoda?
Dalam Injil Markus 10:35-45 dikatakan bahwa sambil berjalan ke arah kota Yerusalem, ketiga kalinya Yesus memberikan peringatan tentang penderitaan Nya. Seperti pemberitaan pertama dan kedua, juga yang ketiga ini disusul dengan pembicaraan Yesus dengan para murid.
Injil Markus menampakkan kesulitan bagi pengikut Yesus untuk mengerti sabda dan jalan Nya. Para murid atau orang kristen mudah terpesona oleh kemuliaan Kristus, tapi jalan yang harus ditempuh Nya ke sana menurut Injil agak berbeda dengan pikiran manusia. Orang kristen mengharapkan masuk dengan Kristus ke dalam dunia baru, masyarakat yang bebas dari segala kekurangan yang dialami sekarang. Tapi mereka mau memasuki dunia baru itu tanpa menjadi manusia baru, melainkan dengan keinginan dan bayangan yang berasal dari dunia lama, umpamanya mengharapkan tempat dan kuasa tertinggi di situ. Dengan demikian yang baru yang dinantikan telah rusak.
Yesus menjelaskan bahwa dunia yang dirindukan, hanya dapat menjadi realitas, kalau manusia berubah dan ikut menanggung penderitaan, yang mau tidak mau merupakan jalan ke arah masa depan yang lebih baik. Secara sakramental orang kristen telah setuju dan mengakui itu. Semua dibaptis dalam kematian Kristus (Rom 6), dan semua ikut minum piala penderitaan Kristus dalam perayaan Ekaristi. Tapi sejuah mana tanda-tanda kepercayaan itu dimengerti dan dihayati dalam praktek hidup ? Tidak hanya penderitaan di tengah jalan ke masa depan, tapi juga pelayanan dalam jemaat sekarang merupakan unsur injili yang sulit dimengerti. Dibedakan antara masyarakat para bangsa dan komunitas kristen. Di sana pembesar-pembesar memakai kekerasan, menyalahgunakan kedudukan tinggi untuk dapat mempertahankan kedudukan itu dan membela kepentingannya sendiri, sambil merugikan hal-hak bawahan. Orang yang bertanggung jawab dalam jemaat, Gereja, Paroki dst tidak luput dari bahaya yang sama; mereka dapat lebih memperhatikan pangkatnya sendiri daripada akan kepentingan paroki atau sekolah. Yesus membalikkan sikap kepemimpinan manusiawi itu. orang yang bertanggung jawab menjadi pelayan, hamba, harus menyerahkan diri kepada kepentingan orang lain, paroki, murid, keluarga. Yesus memberikan teladan sikap baru itu dengan hidup Nya. Ia adalah Anak manusia yang menguasai seluruh dunia; toh ia adalah Anak manusia yang menguasai seluruh dunia; toh ia tidak mau dilayani, melainkan terus menerus melayani dan menolong orang yang membutuhkan.
Kesulitan untuk mengerti dan mengikuti Yesus dalam penderitaan dan pelayanan tidak dapat diatasi oleh manusia, tapi hanya oleh Yesus sendiri, seperti nampak dalam ayat terakhir injil Markus 10:45. Yesus menebus dan membebaskan manusia untuk dapat menanggung pelayanan dan penderitaan. Itu terjadi di mana Yesus mengganti manusia dan rela memikul segala kekurangan dan kelemahan orang. Barang siapa menemukan dan menerima Yesus yang menjadi hamba sampai di kayu salib sebagai wakil atas dirinya, matanya akan terbuka bagi dosa dan kelemahannya. Di situ jalan terbuka untuk mengikuti Yesus dengan rela.
Johannes Widajaka Pranata, CM