arrow_back Kembali
Renungan 23 August 2017

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XVI

  RENUNGAN  HARI  MINGGU  BIASA XVI


Tidak jarang dalam hidup ini kita sering melihat aneka macam kejahatan. Baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung. Baik itu kita alami sendiri maupun yang dialami oleh orang-orang di sekitar kita. Melihat maupun mengalami aneka macam kejahatan di dalam kehidupan ini kita kemudian tertarik untuk bertanya, “Mengapa di dunia ini ada kejahatan? Kalau Tuhan ini Mahabaik, mengapa Ia tidak menciptakan semua orang itu baik?” Di lain pihak, karena kejengkelan kita terhadap mereka yang sampai tega melukai bahkan menghilangkan nyawa orang lain, kita kemudian berseloroh, “Orang semacam itu tidak pantas untuk diampuni.”
Bacaan Injil pada hari ini memberikan panduan yang sangat berharga bagi kita manakala kita berhadapan dengan situasi konkret semacam itu. Yesus berkata bahwa dalam hidup ini padi (simbol kebaikan) dan lalang (simbol kejahatan) selalu hidup berdampingan. Kadang kehadiran keduanya tidak bisa sepenuhnya dibedakan. Kita melihat orang yang sangat baik dalam kesehariannya ternyata tega mengkhianati temannya. Atau justru kita melihat tampilan seseorang yang acak-acakan tapi malah perbuatannya begitu baik dan perhatian pada orang di sekitarnya. Kebaikan dan kejahatan kadang tampil dalam rupa yang sangat mirip hingga kita kesulitan mengenalinya.
Yesus memahami dengan sangat baik akan hal ini. Oleh karena itu, Yesus mencegah orang untuk mencabut lalang itu dari ladang. Mengapa demikian? “Sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabuti lalangnya” (Mat 13:29). Apakah artinya itu? Artinya ialah, ketika kita menghancurkan kejahatan dengan jalan kekerasan, sebenarnya kita sedang melakukan kejahatan; kita menghilangkan kebaikan dalam diri kita.
Kita kerap berpikir bahwa teroris harus dihukum mati, anak yang tidak taat kepada perintah orang tua harus dimarahi bahkan kalau perlu dipukul agar mereka disiplin. Orang yang melakukan kekerasan/kejahatan harus kita viral-kan agar ia menjadi malu dan dimusuhi banyak orang. Tapi apakah benar demikian yang terjadi? Kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Alih-alih jera, teroris baru akan menampilkan wajahnya dengan cara yang paling modern. Alih-alih kita mendapatkan anak yang disiplin, kita malah sedang mendidik seorang pemberontak. Alih-alih pelaku kejahatan itu mendapat malu, kita justru menjadi agen penebar kebencian.
Dan disadari atau tidak, sebenarnyakita juga sedang mengambil jalan yang diambil oleh orang yang kita sendiri benci. Kita menjadi orang yang kita benci sendiri. Pada saat inilah genaplah nas Kitab Suci, “Gandum (kebaikan dalam diri kita) itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabuti lalang (kejahatan di sekitar kita)-nya”(Mat 13:29).
Yesus sama sekali tidak ingin kita mengambil jalan hidup yang sama dengan mereka yang menebar kejahatan. Karena itulah kita dipanggil untuk menjadi biji sesawi maupun menjadi ragi. Walaupun kita (orang yang berbuat baik) sedikit, kehadiran kita dapat memberi warna dan rasa bagi orang-orang di sekitar kita.
Mungkin cara demikian dianggap sebagai cara yang lemah, lembek, pengecut, tidak berani mengambil risiko. Namun, apakah itu keberanian, kekuatan, kegagahan? Justru orang yang berani, gagah dan kuat adalah mereka yang tidak mengambil jalan sebagaimana orang fasik ambil. Orang yang berani, gagah dan kuat adalah mereka yang berani mengasihi manakala yang lain membenci. Karena kejahatan tak pernah bisa dihancurkan dengan kekerasan. Kekerasan hanya melahirkan kekerasan baru. (ykc).