arrow_back Kembali
Renungan 07 March 2018

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA II

RENUNGAN  HARI  MINGGU BIASA II

     
Di lereng Gunung Kelud Blitar, ada sebuah keluarga yang tinggal dalam gubuk kecil, yaitu keluarga bapak Musman berusia 52 tahun. Bapak Musman  terus dan terus mencari dimana tempat dan asal dari kedamaian / ketentraman dan kebahagiaan  itu. Suatu hari Bp. Musman, bersama  dua orang temannya yaitu Ahcmad  Mongin dan Karsontono bertemu dalam angan-angan yang sama. Pertama-tama  yang di pikirkan dan dicari itu adalah kanugrahan atau kesaktian tujuannya, siapa yang sakti akan tenteram hidupnya dan tidak ada yang berani melawan atau mengganggu.
Dalam permenungan dan pencariannya mereka bertemu dengan tokoh spiritual berjubah putih yang tidak lain adalah Romo Gerald Boonekamp CM, yang kebetulan bertugas di Paroki Santo Yusup Blitar.
Romo G. Boonekamp, CM. memberikan jawaban atas pertanyaan mereka : “Orang hidup di dunia ini mencari dan mengabdi hanya kepada  Allah.” Mendengar jawaban itu hati mereka berdebar-debar dan timbul pertanyaan baru : Bagaimana caranya ?  Rm.Geral Boonekamp CM. menjawab caranya harus belajar yang lama, tidak mudah, dan haru tekun dan rajin. Mereka minta diberi pelajaran bagaimana  mengabdi dan menjadi murid murid Kristus. Romo-pun bersedia dan pelajaran katekumen berjalan selama 2 tahun yang diikuti oleh kedua belas orang tua-tua tadi beserta keluarganya. Pada tahun 1942 terlaksana baptisan pertama  berjumlah 12 orang dari desa Slorok-Garum-Blitar dimana bapak Musman tinggal.
Selain diberikan oleh Romo G. Boonekamp, CM, pelajaran juga diberikan oleh Romo E. van Mensvoort, CM; Bp. Hardjo Sudarto dan Bp. Basuki seorang katekis dari kota Blitar. Pada tahun 1943 terlaksana baptisan kedua  yang diikuti  80 orang tua, muda dan anak-anak.
Mereka diantar oleh para romo dan katekis waktu itu kapada Sang Guru Sejati, Sang Penyelamat yaitu Yesus Kristus.
Dalam bacaan pertama : Imam Eli mengantar Samuel kepada Allah:”Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar ( 1 Sam 3 : 9 ).”. Demikian juga dalam Injil, kita mendengar bahwa  Yohanes Pembaptis, mempersilahkan Petrus dan Andreas untuk mengikuti Yesus. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus ( Yoh. 1: 36-37 ) Ada kemiripan antara Imam Eli dan Yohanes Pembaptis yaitu mempersilahkan muridnya untuk belajar mengenal Allah yang benar bukan pada pengajar pengajar palsu. Ini suatu sikap kerendahan hati sang guru. Merekapun belajar menjadi murid, dan tinggal bersama Dia. Mereka belajar mengenal Yesus lebih mendalam. Ketiga orang tokoh dari desa Slorok tadi bp. Musman, Ahmad Mongin dan Karsontono, telah menceburkan diri tuk mengikuti jejak Kristus, rela dituntun pada kebenaran dan terlibat dalam karya kasih. Bagaimanakah dengan kita. Apakah kita sudah mengenal Kristus secara mendalam yaitu mau melibatkan diri dalam karya karya cinta kasih ? Semoga ! th.