arrow_back Kembali
Renungan 14 December 2017

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN II

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN II


Paulus adalah seorang tokoh panutan di sebuah Stasi terpencil di lereng gunung Kelud. Pak Paulus setiap pagi selalu duduk di kursi depan rumahnya karena sudah sangat tua, usianya 90 tahun dan selalus setia untuk berdoa rosario.  Ia selalu menasihatkan agar rajin berdoa dan beribadah di gereja. Pak Paulus menjadi tokoh panutan sekaligus perintis  di Stasi Santo Paulus tersebut. Ia mengidolakan Yohanes pembaptis dan menghayati ayat emas  Yohanes Pembaptis yang menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu ( Mrk.1:4).
Yohanes Pembaptis  mengisi seluruh hidupnya untuk meluruskan jalan bagi kedatangan Sang Mesias. Ia tampil di padang gurun sambil menyerukan “Bertobatlah” dan hendaknya dibaptis. Yohanes Pembaptis tokoh suci yang mempesona banyak orang. Pertama, Orang-orang datang untuk meminta nasihat, dan mencari kejernihan batin di tempat dia tinggal, yakni di padang gurun. Mereka datang kepada-Nya minta di baptis dan dengan tindakan itu orang mengungkapkan diri bertobat.  Kedua, dalam bayangan orang pada masa itu, Yohanes juga tampil seperti seorang nabi (ay 6).  Ketiga, Yohanes diutus oleh Tuhan untuk “mendahului” serta “mempersiapkan jalan”
Sungguh menarik apa yang kita temukan dalam diri Yohanes ini. Ia berseru-seru dipadang gurun dengan suara lantang “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”.
Yohanes melakukan semua itu: berlaku tapa, bertobat dan menundukkan diri karena ia tahu siapa yang ditunggu, siapa yang akan datang setelah dia. Yohanes berseru-seru agar orang lain pun ikut bertobat dan bersama Yohanes ikut mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia bukan Mesias, tetapi ia datang untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. Yohanes mengenal dengan baik siapa Tuhan yang dilayaninya. Hal ini membuatnya senantiasa meninggikan Tuhan: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku”, benar-benar rendah hati: “membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”, dan mengarahkan perhatian para pendengar kepada Tuhan yang dilayaninya. Mereka semua berbondong-bondong datang kepada Yohanes  untuk bertobat  dan memberi diri mereka dibaptis.
Bertobat bukan hanya soal menyesali dan mohon ampun atas  dosa pribadi, tetapi juga menyangkut kurangnya kepedulian terhadap persekutuan. Misalnya dalam pertemuan lingkungan ada umat lingkungan yang tidak datang, entah karena sakit atau persoalan lain, apakah kita peduli terhadap umat tersebut mengapa tidak datang di persekutuan kita di lingkungan. Itulah pertobatan menuju persekutuan murid Kristus yang semakin dewasa.
Pertobatan macam apa yang bisa kita lakukan untuk  menjadikan persekutuan di lingkungan menjadi lebih hidup ?  –th-