arrow_back Kembali
Renungan 02 August 2015

PERUT ATAU HATI?

Coba kita Tanya kepada diri kita masing-masing:  selama ini kita beragama untuk apa? Kita mencari Yesus untuk apa?  Banyak orang berbondong-bondong mencari Yesus setelah Dia memberi mereka makan. Karena itu setelah berjumpa Yesus menegur mereka: “sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang”. Kita tahu bahwa makanan yang mengisi perut nyaris tidak mengubah hidup kita, kecuali fisik kita mungkin tambah gemuk atau tambah besar. Kita memang merasa nikmat kalau makanan itu enak, tapi hanya kenikmatan sekejap, hidup kita tidak berubah, sikap kita tidak berubah, dan karena itu keadaan kita juga tidak berubah.

Sebaliknya kalau perjumpaan kita dengan Yesus mengisi hati kita, maka kita akan sungguh berubah, kita dibaharui dalam roh dan pikiran kita, yang pada gilirannya akan mengubah sikap hidup kita, dan perubahan sikap hidup itu juga akan membaharui hidup kita, hidup keluarga kita, orang-orang di sekitar kita. Seorang pengusaha angkutan antar pulau mengaku memperoleh banyak uang ketika dia sendiri ikut melaksanakan pekerjaannya, namun uang yang diperoleh seringkali juga habis begitu saja untuk makan minum dan hiburan yang tidak sehat. Dia hanya memberi sebagaian kecil untuk keluarganya. Kadang juga jatah untuk keluarganya tanpa sadari dia habiskan untuk bersenang-senang. Suatu ketika dia sangat tersentuh dengan sabda Tuhan ini. Selama ini dia hanya mohon berkat Tuhan untuk usahanya, untuk kesenangannya, untuk perutnya, tapi kurang sungguh berjumpa dengan Tuhan Yesus.

Dia mengubah pola hidup dan kerjanya, dia mengangkat beberapa orang kepercayaan, termasuk dengan bagi hasil, sehingga kini dia lebih sering  di rumah. Memang penghasilan untuk perutnya berkurang, tapi apa artinya itu dibanding perkembangan kasih dalam hatinya. Dia lebih dekat dengan anak-anak dan isterinya, lebih mengasihi dan memerhatikan mereka. Sebaliknya mereka juga semakin dekat dan mengasihinya. Dia bersyukur bahwa masih sempat berubah sebelum terlambat, sebelum nafsu perut mengalahkan kasih hatinya sama sekali. Dia juga lebih banyak waktu untuk bertemu saudara-saudari seiman, berbagi kasih dan pelayan dengan mereka. Kata kata Yesus ini sungguh berarti baginya: “Akulah roti hidup! Barang siapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepadaKU, ia tidak akan haus lagi.” Dia percaya karena sungguh nyata dalam perubahan hidup dan keluarganya. Anak-anak dan isterinya juga percaya dan bahagia karena sabda Yesus sungguh nyata dalam perubahan hidup ayah dan suaminya. Rekan kerjanya juga semakin nyaman dan percaya kepadanya, sehingga rejekinya tak pernah kurang. (sad budi)