arrow_back Kembali
Renungan 16 July 2018

PERTUMBUHAN IMAN PENUH MISTERI

PERTUMBUHAN  IMAN  PENUH  MISTERI

     

Bacaan pertama Yehezkiel 17:22-24 berbicara tentang penghiburan dalam pembuangan. Ketika Raja Yoyakim digelandang ke pembuangan sekitar tahun 587 maka pohon kehidupan umat terpilih yaitu bangsa Israel kehilangan “puncaknya”.
Titik balik yang menentukan sejarah kehidupan bangsa Israel ialah kehancuran mereka di tahun 587 seb.M. Kota Yerusalem dan kenisah dihancurkan, dinasti Daud yang mereka banggakan kehilangan pamornya, bahkan sebagian mereka bersama bangsa Israel mengalami pengasingan dibuang ke Babilonia. 
Nabi Yehezkiel yang ikut juga dibuang sejak tahun 597 seb.M. sudah mempersiapkan orang-orang Israel, yang hidup dalam pengasingan untuk bertahan dalam Iman menghadapi pukulan hebat itu, akibatnya tetap menakutkan.
Dengan pengalaman kehancuran ini Yehezkiel berjuang. Umat yang terbuang, yang merasakan betapa berat pukulan yang dilihatnya sebagai pukulan Allah, mengalami rasa putus asa yang mendalam. Maka nabi yang mendampingi umat itu mencoba dengan gigih sampai dengan ajalnya di tahun 571 menyuburkan sekedar harapan yang masih tersisa, yaitu harapan terhadap Allah yang setia yang tidak  akan meninggalkan umatnya.
Manusia bisa gagal dalam usahanya menjalin hubungan dengan sesama dan dengan Pencintanya. Tetapi Allah pencipta yang setia mampu menciptakan awal baru bagi kehidupan dan memberikan mereka jaminan agar keselamatan yang dijanjikannya terlaksana. Allah bersabda dan sekaligus juga bertindak (Yeh 17:24). Allah menanam dan memberikan pertumbuhan. Kekuasaan manusia bisa tidak menentu. Tetapi karya Allah bisa diharapkan.
Allah memuliakan yang sederhana (bdk. 1 Sam 2:7 dan Lk 1:52). Bila Allah bertindak dalam sejarah kehidupan manusia, maka karya Nya bisa tidak terduga (bdk.Yes 55:8). Kekuatan kasihnya memang bisa berbuat banyak (bdk. Rom 9:16), Allah bisa memilih yang kecil, yang sederhana, yang tidak masuk bilangan, untuk mengerjakan karyanya yang agung. Allah bisa memanggil orang yang tidak terkenal untuk menyampaikan berkat bagi sesamanya (lih. Kej 12:3). Allah bisa menyampaikan kuat kuasanya dalam bentuk yang paling sederhana (ay 24). Yang biasa, yang sederhana memang bisa menjadi pendukung harapan yang agung. Orang-2 yang mendengarkan warta Yehezkiel 17:22-24 juga orang-2 kecil terbuang dan lemah. Tetapi mereka itu mendapatkan kekuatan untuk berharap dan berjuang.Orang-orang yang mendengarkan warta Yehezkiel !7: 22-24 juga orang-orang kecil terbuang, lemah. Tetapi mereka itu mendapatkan kekuatan untuk berharap dan berjuang.
Harapan Kristen bukan impian kosong, melainkan dibangun berdasarkan hidup Kristus yang “biasa” juga. Seperti hidup Kristus berkembang karena “berkenan” kepada Allah, demikian juga hidup Kristen dalam harapan itu dibangun dengan usaha untuk berkenan kepada Allah. Harapan itu kemungkinan yang memang nyata diberikan kepada kita,  berkat Kristus.
Injil Markus 4:26-34 menggambarkan Yesus sebagai Pewarta kabar gembira, bahwa Allah dengan nyata sekali menyapa manusia. Pewartaan Nya berkisar pada pengalaman ini: Allah yang bersabda, itu bersabda karena mengasihi manusia. Dan Sabda Nya itu bagaikan biji yang berkembang. Tak terasa, tetapi nyata ada perkembangannya, asal orang itu sendiri tidak menjadi penghalang perkembangan tersebut.
Pengalaman akan Allah memang tetap akan merupakan misteri. Yesus mencoba memberikan gambaran tentang pengalaman misteri ini dalam Sabda dan Pewartaan Nya. Orang yang peka terhadap pengalaman misteri hubungan Allah dengan manusia, tentu akan merasakan, betapa nyata dan bernilai pengalaman Yesus itu bagi kehidupan manusia.
Sabda Allah yang berhasil tidak pernah berhasil hanya untuk kepentingan perseorangan belaka, melainkan untuk kepentingan hidup bersama. Pesan yang hendak disampaikan kepada Jemaat Kristen menjadi jelas, yaitu jangan takabur akan kebesaran, melainkan biarkanlah Sabda Allah sendiri berkembang, dan menjadi perlindungan bagi banyak orang lain. Bukankah begitu tugas Gereja dewasa ini ?

Salam kasih
Rm J. Widajaka CM