arrow_back Kembali
Ruang Katekese 14 March 2016

PERSIAPAN UMAT SEBELUM MENGIKUTI MISA KUDUS

Tanya jawab seputar 'Persiapan Umat sebelum mengikuti Misa Kudus' ini diambil dari buku Katekese Liturgi 2016 yang disusun oleh Tim Komisi Liturgi Keuskupan Surabaya yang  berjudul 'Seputar Umat dan Petugas Liturgi'. 
11.    Bagaimana kita berpartisipasi aktif dalam perayaan liturgi  melalui sikap hening?
Konsili Vatikan II mengamanatkan partisipasi umat beriman yang penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi (bdk. SC, 14-20).Pasca konsili dan sampai hari ini, partisipasi aktif pun masih dibahas dan diusahakan di banyak tempat.
Apa yang dimaksud dengan partisipasi aktif?Berbicara tentang partisipasi aktif dalam Misa, banyak orang langsung memikirkan partisipasi dalam hal menyanyi, menjawab aklamasi-aklamasi dan juga tata gerak: berdiri, berlutut, duduk, dan sebagainya.Mungkin belum banyak yang terpikir, bahwa ada bentuk partisipasi aktif lain yang tidak kalah pentingnya: yaitu diam dan hening.Bisa jadi diam dan hening adalah bentuk partisipasi aktif yang paling sulit dilakukan umat.Kadang lebih mudah bagi kita untuk bicara dan bergerak daripada diam dan hening.
Kapan kita dituntut untuk berpartisipasi aktif dengan diam dan hening dalam Misa?Sesungguhnya, dalam Misa ada banyak waktu di mana kita diminta untuk diam dan hening. Mari kita cermati kutipan PUMR no. 45 ini, “Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang telah didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati. Bahkan sebelum Perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.”
Bapa Suci Paus Fransiskus secara mencolok mengaplikasikan hal diam dan hening ini dalam Misa yang beliau pimpin; beliau mengadakan saat-saat hening yang masing-masing cukup panjang waktunya dan benar-benar khusyuk.Usai homili, Paus Fransiskus biasa kembali ke katedra atau takhtanya dan duduk diam di sana selama beberapa menit.Dengan demikian, umat dapat merenungkan Sabda Allah dan penjelasan yang baru beliau sampaikan.
Paus St. Yohanes Paulus II pernah mengajarkan hal ini “... partisipasi aktif tidak menghalangi kepasifan yang aktif dari kesunyian, keheningan dan mendengarkan: sebaliknya, ia justru menuntutnya.Umat tidak pasif, misalnya, saat mendengarkan bacaan atau homili, saat menyimak doa-doa imam selebran, lagu serta musik dalam liturgi.Kesemuanya itu adalah pengalaman kesunyian dan keheningan, tetapi itu semua sungguh sangatlah aktif.”
Mari, Ibu, Bapak, dan Saudara-Saudari, bersama-sama kita melatih diri untuk diam dan hening, usai komuni misalnya, mulai dari Misa ini.Gunakan waktu yang ada untuk memuji Tuhan dan berdoa dalam hati.
12.    Kapan waktu yang tepat bagi umat untuk berdiri, duduk, berlutut, menundukkan kepala, dan membungkukkan badan?
Ada yang bertanya, waktu imam berlutut di kaki altar, mencium altar, dan saat-saat lain dimana imam berlutut atau membungkukkan badan sebagai tanda hormat, perlukah umat ikut membungkukkan badan? Sebenarnya tidak perlu. Ada waktunya imam sendirian memberi hormat, ada waktunya umat ikut memberi hormat.
Usai Doa Umat, seluruh umat duduk sementara persiapan persembahan dilakukan.Umat tetap duduk sampai imam menyampaikan ajakan, “Berdoalah Saudara-Saudari …”Saat imam mengajak umat berdoa itulah umat sudah mulai berdiri dan bukan saat awal Prefasiketika imam mengucapkan, “Tuhan sertamu.” Juga, sikap yang benar saat imam memanjatkan doa, “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam …” adalah duduk.
Umat diminta membungkukkan badan saat mendaraskan Syahadat (Kredo) atau Aku Percaya, tepat sewaktumengucapkan, “Ia dikandung dari Roh Kudus …”sampai kata-kata “dan menjadi manusia,” dalam Syahadat Panjang (Syahadat Nicea-Konstantinopel, atau sampai kata-kata “yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria,” dalam SyahadatPendek (Syadahat Para Rasul).Membungkukkan badan di sini adalah ungkapan hormat kita atas misteri Inkarnasi, yaitu bahwa Yesus Putra Allah dikandung oleh Perawan Maria dari Roh Kudus.
Banyak yang menanyakan tentang umat yang ikut merentangkan tangan saat Doa Bapa Kami.Sebenarnya hal ini tidak perlu, karena hanya pemimpin doa sajalah yang merentangkan tangan. Imam yang merentangkan tangan ketika Doa Bapa Kami sebenarnya sedang merangkum dan menghunjukkan seluruh doa Tubuh Mistik Kristus kepada Sang Kepala, yakni Kristus sendiri. Dengan demikian umat tidak perlu menghunjukkan doanya sendiri-sendiri dengan merentangkan tangannya karena hal itu sudah dilakukan oleh imam selebran. Lebih lanjut, bolehkah atau perlukah umat bergandengan tangan? Alangkah baiknya jika pada saat Doa Bapa Kami, umat mengatupkan tangan di dada, karena tata gerak bergandengan tangan justru melemahkan makna Doa Bapa Kami yang seharusnya mengarahkan kita kepada Bapa di surga dan bukan kepada sesama manusia.
Yang terakhir, umat diminta untuk menundukkan kepala saat menerima berkat Allah yang mahakuasa melalui perantaraan imam pada akhir Misa.Dengan menundukkan kepala, umat yang sudah berdiri di akhir Misa ini menyatakan kesiapannya untuk menerima berkat dari Allah.