PERJUANGAN SEBAGAI INSAN BERIMAN
"Monoton dan membosankan!" demikian jawab seorang pemuda ketika ditanya mengapa ia mulai tidak lagi mengikuti perayaan Ekaristi. Rasa bosan dan jemu adalah perasaan yang sangat manusiawi. Namun perasaan ini mestinya dapat diatasi dengan sikap iman yang penuh penyerahan, keterbukaan hati pada karunia dan bantuan Bapa seperti Yesus katakan sendiri: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya" (Yoh.6:65). Istilah 'datang' di sini berarti juga: memahami, mengerti, menerima, percaya dengan sikap terbuka pada ucapan-ucapan, kata-kata-Nya, meskipun pada saat ini belum atau tidak dapat dipahami sepenuhnya. Sebab, dalam banyak pengalaman hidup, penyerahan secara pribadi lebih memberikan kekuatan hidup dan kegairahan hati daripada isi pengetahuan iman itu sendiri. Memang, idealnya bila kita percaya secara pribadi kepada Tuhan dan sekaligus juga mengerti isi dari yang kita imani itu secara mendalam. Namun yang lebih dibutuhkan seorang beriman dalam hidupnya adalah sikap percaya.
Sikap percaya penuh penyerahan inilah yang dimiliki Petrus bahwa dia percaya akan Yesus sebagai Putra Allah. Dan hanya kepada Dia Petrus berpegang (bdk. Yoh. 6:68-69) Meski dalam ketidakjelasan makna, namun dengan jujur menjawab 'Ya' kepada Tuhan. Makna makan daging dan minum darah baru menjadi jelas, saat Yesus berada di puncak salib, saat kebangkitan dan kedatangan Roh Kudus. Para murid termasuk Petrus baru memahami bahwa itu semua dibuat oleh Yesus, demi keselamatan semua orang. Baru setelah semuanya terjadi, atas dasar pengalaman para murid dan refleksi iman, kita menyadari bahwa iman dan Ekaristi merupakan satu kesatuan: iman Kristen berpuncak pada persekutuan hidup dengan Kristus; dan persekutuan hidup dengan Kristus itu menjadi nyata dalam perjamuan Ekaristi. Sekalipun semuanya sudah menjadi nyata dan jelas; sebagai insan beriman kita masih membutuhkan rahmat-Nya untuk mengatasi kelemahan manusiawi kita dalam menentukan sikap percaya menerima tawaran kasih-Nya yang menyelamatkan. Di sinilah letak perjuangan kita sebagai insan beriman.
Saudaraku, apa usaha Anda agar tetap konsisten dan konsekuen pada iman Anda? Dapatkah kelak Anda diharapkan menjadi pembawa kebenaran dalam kehidupan di masyarakat sekitar? (Hd.)