PERHATIAN
Siapapun yang pernah naik kereta api tentu merasa betapa nyaman dan amannya sarana transportasi ini sekarang, bahkan yang kelas ekonomi sekalipun. Beda sekali dengan beberapa tahun yang lalu kita sering dibuat jengkel dengan jadwal keberangkatan dan ketibaan yang tak bisa diandalkan, apalagi kelas ekonomi yang kumuh berdesakan bau, panas. Hanya dalam hitungan bulan Jonan telah mengubah KAI secara luar biasa. Apa kuncinya? Jonan bukan lulusan sekolah perkereta apian. Jadi suksesnya mengubah KAI bukan karena sekolah keahlian. Lalu karena apa? Pada hemat saya karena perhatian! Lho benarkah? Begitu hebatkah peran perhatian. Ya begitu menjabat Jonan memberi perhatian luar biasa, memberi perhatian berarti memberikan hati, memberikan diri! Sebagai direktur KAI waktu itu dia bisa berhari hari tidak tidur di rumah. Lalu dimana? Di kereta api! Dia ikuti perjalanan berbagai kereta api, bukan di luar negri (dengan alasan seperti DPR: studi banding), tapi kereta api lokal yang dipimpinnya sehingga mengetahui apa saja kekurangan dan kebutuhannya. Ia tak segan langsung bertindak,rapat dengan staf lokal, menegur dan bahkan memecat pegawai yang tidak bertanggungjawab. Pasti dia juga belajar banyak dari perhatian langsung seperti itu yang dia tindak lanjuti bersama para staf dan pegawainya. Hasilnya luar biasa. Kita mestinya heran bagaimana sarjana akuntansi seperti Jonan bisa punya perhatian pada sistem keamanan dengan merekrut pensiunan atau mereka yang ikut seleksi TNI. Bagaimana dia bisa menggunakan sistem komputerisasi untuk penjualan tiket maupun pengecekan. Kini kita tak perlu antri untuk membeli tiket. Kini kondektur cukup melewati kita tanpa mengganggu tidur kita sambil melihat data kita di smartphonenya.
Kita sering enggan belajar katekese dan pastoral karena merasa bukan bidang kita, bukan sekolah kita. Tapi Jonan dan beberapa pemimpin hebat seperti Aswar Anas, Risma, Ridwan Kamil, Ahok walaupun bukan lulusan sarjana administrasi pemerintahan dapat memimpin dengan baik karena sungguh perhatian pada tugasnya, mau terus belajar dan bekerja dengan penuh tanggungjawab.
Paroki kita tahun ini sudah berusia 87 tahun. Kita boleh bangga bukan hanya atas berbagai prestasinya, namun karena kerajinan dan ketekunan umatnya. Prestasi bisa datang dan pergi, namun kerajinan dan ketekunan menjamin keberlangsungan hidup. Namun kalau mau maju, kerajinan dan ketekunan tidak cukup, kita perlu terus belajar. Dan belajar hanya efektif kalau kita punya perhatian akan kehidupan lingkungan wilayah dan paroki kita, memperhatikan kebutuhannya.
Perhatian paroki tahun ini pada wilayah hendaknya tidak kita lihat sebagai formalitas (itulah yang membuat KAI tidak kunjung maju sebelum Jonan), namun sebagai kesempatan untuk memberi perhatian pada wilayah (dan lingkungan) kita masing-masing. Perhatian yang didorong oleh cinta, tanggungjawab dan keinginan untuk maju. Dan perhatian adalah kasih. Dan Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16). Seberapa besar kasih kita ditentukan oleh seberapa besar perhatian kita. Seluruh program paroki, termasuk pembinaan katekese yang akan kita selenggarakan selama bulan Mei-Agustus tahun ini dimaksudkan untuk kemajuan wilayah, lingkungan, keluarga, dan masing-masing pribadi umat kita. Jika Tuhan sudah memilih kita untuk ambil bagian dalam penggembalaan umatNya berilah perhatian, berilah kasih, belajarlah demi kemajuan kita semua. Untuk itu dibutuhkan pengorbanan, bukankah kasih tanpa pengorbanan hanya omong kosong? Perhatian dan pengorbanan kita pasti berbuah manis pada waktunya. (sad budi)