'PERCAYALAH KEPADA ALLAH'
Kita masih berada di masa Paskah, masa kebangkitan Yesus Kristus, yang berarti juga kebangkitan bagi kita semua. Hari ini Yesus dalam Injil Yohanes memberi kepastian dan hiburan kepada murid-murid-Nya dan kita juga dengan bersabda: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percalalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh 14:1-2). Jadi, sabda Yesus ini merupakan dasar dan pegangan jawaban kristiani sejati terhadap pertanyaan atau masalah-masalah mendalam hidup umat manusia! Sebab orang modern menghadapi pendapat ahli-ahli biologi, kedokteran, ilmu fisika yang ateis atau tidak percaya kepada Allah.
Bagi umat kristiani kematian bukanlah akhir kehidupan manusia yang utuh, melainkan proses perubahan dan awal bentuk kehidupan menuju kesempurnaan. Bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus dan dibaptis, kematiannya lebih berupa menyatukan diri bersama Kristus di dalam pangkuan Allah Bapa di surga di mana Ia berada.
Memang hal ini merupakan suatu misteri, rahasia, yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya, sebab misteri itu memang tidak dapat diubah! Ibaratnya, warna tidak dapat digambarkan dengan jelas kepada orang yang buta sejak kelahirannya. Namun, Allah tidak mau membiarkan kita berada dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Ia tidak mau membiarkan kita hidup dalam kegelapan. Yesus memberi keterangan kepada kita tentang hal-hal yang hakiki atau fundamental yakni kehidupan kekal. Suatu persekutuan seutuhnya, jiwa dan raga, bersama dengan Kristus yang telah bangkit. Berbagi dalam kemuliaan dan kegembiraan-Nya yang abadi.
Dalam ensiklik “Spe Salvi” (diselamatkan karena berpengharapan) Paus Emeritus Benediktus XVI memperhatikan adanya orang-orang yang tidak mengharapkan adanya hidup kekal. Kata mereka: “Mengapa harus mengharapkan hidup kekal, yang akan penuh masalah seperti sekarang?” Menurut Sri Paus, mereka itu hanya dapat menggambarkan hidup kekal serupa dengan hidupnya di dunia sekarang ini. Padahal sebenarnya hidup kekal adalah suatu hidup yang bebas dari aneka pembatasan dan hambatan yang dialaminya sekarang ini.
Dalam ensikliknya itu Paus Benediktus XVI berkata: “Hidup kekal ibaratnya adalah terjun ke samudera kasih yang tak terbatas, suatu saat di mana waktu, yakni saat sebelum dan sesudahnya, tidak ada lagi” (No.12). Hidup kekal bukanlah bagaikan suatu urutan hari demi hari seperti suatu kalender, melainkan ibaratnya merupakan suatu puncak himpunan kepuasan hati yang sempurna dan mencakup kita seluruhnya.
Saudaraku, disinilah kita diingatkan akan Kristus yang telah bangkit. Yesus bukan bangkit untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk membangkitkan kita bersama dengan Dia. Ia hidup di dunia ini karena Ia mau melaksanakan kehendak Allah Bapa-Nya, yakni menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Ternyata dosa manusia begitu besar dan banyak, sehingga menuntut pengorbanan yang luar biasa pula dari diri Yesus. Namun Yesus telah rela dan siap untuk membuktikan kasih-Nya yang tak terbatas.
Dan sebelum menderita, wafat dan bangkit, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”. “Di mana Aku berada, kamu pun berada”(Yoh 14:3). Sesungguhnya inilah berita Paskah bagi kita semua! Percayakah Anda dengan berita Paskah ini? (Hd)