PERCAYA: BERJALAN MENUJU TERANG KEHIDUPAN
Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman (3:18).
Tidak jarang dalam hidup ini kita mengira bahwa segala tindakan kita yang bertentangan dengan perintah Tuhan akan membawa hukuman tertentu. Kita mengira, kalau kita tidak menuruti perintah Allah, lantas Allah menghukum kita. Ketika kita mengalami kemalangan, kita dengan segera menghubungkan hal itu dengan hukuman Tuhan atas aneka dosa yang telah kita lakukan.
Apalagi hal ini kian diperkuat dengan teks Injil yang hari ini kita dengarkan bersama. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman (3:18). Bukankah percaya itu berarti mendengarkan dan melaksanakan perintah Tuhan? Namun, apakah sepenuhnya benar anggapan demikian? Benarkah bahwa Allah akan menghukum kita manakala kita tidak melaksanakan perintah-Nya?
Allah tidak pernah menghukum. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (3:17).” Allah tak pernah menghukum. Kitalah yang memilih mengasingkan diri dari kasih Tuhan. Kita sendirilah yang memilih hidup dalam kegelapan.
Tidak jarang kita lebih memilih hidup dalam benci ketimbang hidup dalam cinta. Kita lebih memilih hidup dalam balas dendam ketimbang hidup dalam pengampunan. Kita memilih hidup dalam ketamakan ketimbang hidup dalam berbagi. Dan ketika hidup semacam itu yang kita pilih, kita pun sedang memasuki kegelapan hidup. Kedamaian pun sama sekali tidak hadir di sana. Inilah yang dimaksudkan dengan kata-kata Tuhan Yesus, “ia telah berada di bawah hukuman (ay. 18).”
Kegelapan hidup yang sangat nyata mengungkung diri kita saat ini ialah rasa takut. Kita takut untuk membuka diri. Kita takut, kalau kita membuka diri kita kepada sesama, akan ada begitu banyak sasaran tembak yang sedang kita buka bagi sesama. Kita takut dihakimi. Kita takut dinilai. Kita takut diserang oleh sesama kita. Maka tidak mengherankan jika jaman ini semakin banyak orang yang tertutup. Banyak orang menutup dirinya dari sesamanya. Dan ketika hal itu terjadi, kehidupannya pun semakin gelap.
Kehidupan semacam ini tidak akan pernah memancarkan terang. Orang yang hidup dalam ketakutan, kekhawatiran, prasangka, tidak akan pernah membawa keteduhan dan sinar terang bagi sesamanya. Sementara orang yang hidup dalam iman, percaya akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya, ia tidak akan dikungkung oleh kekhawatiran hidup. Ia tidak akan berada dalam keragu-raguan hidup. Dia pun akan menjalani hidupnya dengan penuh sukacita. Hidupnya memancarkan terang. Maka seandainya ada lawan kata dari iman (percaya), itu tidak lain dan tidak bukan adalah takut.
Masa Prapaskah menjadi momen yang tepat bagi kita untuk meninggalkan kehidupan kita yang gelap itu menuju pada terang kehidupan. Ini saat yang tepat bagi kita untuk bertobat, berani hidup dalam Tuhan dan percaya pada-Nya. Semoga Tuhan memberkati usaha kita sekalian untuk menuju terang sejati. Berkat Tuhan menyertai kita semua. Amin. (Rm. Johan,CM).