arrow_back Kembali
Renungan 29 March 2016

“Pengalaman pribadi bersama Allah menjadi salah satu jalan penyelesaian dari masalah yang kita hadapi.”

“Pengalaman pribadi bersama Allah  menjadi salah satu jalan penyelesaian dari masalah yang kita hadapi.”

Jika kita sempat menonton kembali film ”The Passion of the Christ”,  kita akan melihat bahkan turut merasakan hancurnya hati dan perasaan dari Bunda Maria dan Maria Magdalena ketika Yesus yang mereka cintai harus meninggalkan mereka karena kematian-Nya. Sedih dan sedih adalah kata yang tepat untuk melukiskan gejolak hati dan batin mereka karena peristiwa kematian Yesus yang mereka cintai itu.
Perasaan galau dan terguncang menyelimuti para murid, khususnya Maria Magdalena. Masa-masa indah bersama Yesus dilawankan dengan kenyataan yang sedang mereka alami sekarang. Yesus sudah meninggalkan mereka selamanya dan sekarang jenazahnya hilang. Namun di balik kegalauan yang ada pada diri mereka, terselip harapan dan optimisme baru, yaitu kesadaran dan kenangan bahwa apa yang disabdakan dalam Kitab Suci telah digenapi: Yesus telah bangkit dan tinggal bersama mereka. Yesus bangkit dan datang  untuk menguatkan hati mereka. Ia datang untuk menghibur mereka. Ia datang untuk meyakinkan mereka bahwa iman kepada-Nya bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan sebuah kebenaran dan bahkan menjadi jaminan keselamatan mereka yang percaya kepada-Nya. Dan, memang benar bahwa jika tidak ada kebangkitan maka iman merekapun akan menjadi sesuatu yang sia-sia.
Oleh karena itu, ketika kesedihan dan keputusasaan menjadi pengalaman kita, pengalaman pribadi bersama Allah dan kesadaran menjadi orang yang dicintai oleh Allah bisa menjadi titik awal untuk kembali bangkit. Pengalaman dan kenangan indah bersama Allah inilah yang kerap kita lupakan selama ini saat kita mengalami “kebuntuan” dalam hidup. Sebaliknya, kita tidak jarang memilih jalan di luar iman kita yang kita anggap bisa memecahkan kebuntuan hidup kita.
Sabda Yesus: “Akulah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan”, haruslah menguatkan kita kembali yang berada dalam kecemasan, kehilangan harapan, ketakutan, keputusasaan dan kesedihan. Menyadarkan kita kembali bahwa Yesus berkenan datang untuk menghibur dan sekaligus menguatkan kita. Meyakinkan kita juga bahwa iman kepada-Nya bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan sebuah kebenaran bahkan menjadi jaminan keselamatan mereka yang percaya kepada-Nya. Karena itu, jika jalan itu telah dirintis, jika kebenaran itu telah dinyatakan dan jika kehidupan itu telah diberikan oleh Yesus kepada setiap dari kita dengan kebangkitan-Nya, maka sekarang saatnya kita masing-masing harus memilih; mengimani Yesus dan tinggal di dalam Gereja  yang didirikan oleh tangan-Nya sendiri ataukah mencari yang lain di luar Diri dan Gereja-Nya?                                             
                                                                                                                              Rm. Tetra Vici Anantha, CM