PENDIDIKAN NASIONAL
Pendidikan nasional dapat ditafsirkan sbb. : 1. Meneruskan warisan kebudayaan nasional kepada generasi muda; misalnya kesusasteraan, seni tari, adat, tatacara nasional. 2. Memperkembangkan kesadaran nasionl yang sehat, kesadaran bernegara, misalnya dengan pelajaran sejarah nasional, ilmu kewarga-negaraan, upacara bendera, ziarah ke makam pahlawan; 3. Melaksanakan citra nasional Negara yang menjiwai seluruh bangsa; melaksanakan Pancasila dalam lingkungan sekolah. Dewasa ini fakta menunjukkan bahwa pendidikan sedang merosot : jumlah sekolah-sekolah umum bertambah, tapi tidak mempersiapkan tenaga ahli yang memadai kepada masyarakat. Hasil : orang setengah ahli, yang tidak mau bekerja kasar, tapi tidak mampu bekerja ilmiah. Sebab-sebab kemerosotan tersebut, antara lain ialah : sekolah-sekolah tidak berkiblat pada kebutuhan masyarakat praktis untuk pembangunan. Perekonomian yang lemah merugikan pendidikan, karena tidak sanggup membayar gaji yang layak kepada para pengajar. Akibatnya, mereka kurang melaksanakan kewajibannya, karena terpaksa mencari uang dengan berbagai jalan (privat les, memalsukan ijazah, menjual diktat-diktat tak bermutu). Kelemahan guru-guru itu dipergunakan para pelajar untuk mendapat ijazah bahkan gelar kesarjanaan tanpa pengetahuan yang semestinya. Siswa-siswa terlalu lekas puas terhadap apa yang dihasilkan secara minimal tanpa memperhatikan nilai-nilai ilmiah. Mereka tidak dibiasakan belajar teliti serta mendalam, dan kurang insaf, bahwa dengan demikian mereka merugikan diri sendiri dan masyarakat. Akibatnya, pendidikan serupa ini memperlambat irama pembangunan. Untuk mengatasi masalah yang menyedihkan ini, maka antara lain gaya pendidikan harus diubah yaitu menggerakkan para pemuda kepada semangat kerja keras, yaitu praktis-tekhnis (dengan tangan), tepat dan bertanggungjawab. Pendidikan kejuruan harus lebih diutamakan dari pendidikan umum.
Pendidikan amat sangat penting demi hari depan negara. Pendidikan yang salah menimbulkan malapetaka bagi bangsa: tambahnya kaum proletar intelektual, yang merupakan unsur labitasi atau mudah goncang, kekacauan disektor administrasi, yang kebanjiran Negara-tenaga muda, yang kurang keahlian, alat-alat modern yang mahal tidak dipelihara semestinya; pembangunan yang semestinya dapat di kerjakan sendiri, terpaksa mendatangkan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri dengan biaya mahal.
Romo John Tondowidjojo, CM