PENDIDIKAN JAMAN SEKARANG
“Barangsiapa menghormati bapanya, akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula” (1 Sirach 3:3-7. 14-17a). Berkat Perjanjian Lama ini dapat kita uraikan menjadi : Tahu menghormati orang tua, akan ganti dihargai orang muda. Siapa mau menjadi pendidik baik, harus mau taat dididik lebih dulu. 1. Problem pendidikan di masa sekarang. Banyak orang tua sudah tidak sambung, kehilangan pengertian dan kepercayaan anaknya. Mereka ada yang bisa melengkapi anak dengan segala permainan, pakaian, hobby dan mode paling mutakhir, tetapi menangkap hati anak itu perkara lain. Ini soal mengikuti anak sejak dari kandungan, sejak dari buaian, mencintainya pertama-tama sebagai putera atau puteri Allah, yang dipercayakan kepada orang tua, untuk dibesarkan menjadi manusia hidup bagi kemuliaan Allah. Orang tua yang sadar akan tanggung jawab mulia ini, tidak akan memperlakukan “titipan Tuhan itu”, semuanya: bisa dikuasai, untuk dimanja, agar melekat, dapat dimiliki… dan biasanya kebalikan akibatnya! Atau sebaliknya dianiaya, disiksa sampai cedera, mati seperti Arie Hanggara. Putera bapak ibu, kalau tidak diarahkan kiblatnya yang benar kepada Allah yang mahautama, ia jadi “EGOIS”, tidak tahu terima kasih, memisahkan diri melawan pendidik. 2. Anak, dididik takut akan Tuhan, jadi bahagia, hiburan orang tua. Betapapun putera atau puteri itu anak orang tua, jiwanya pertama-tama didorong mencari cinta Tuhan, dan belum akan merasa puas, terjamin aman, sebelum melalui orang tua mendapatkan cinta lengkap, yang bijaksana berdasarkan iman kristiani dan panggilan Tuhan, yang diletakkan pada setiap anak lewat bakat, pembawaan sejak dari kandungan ibunya. Orang tua yang mau mendidik anak dengan baik, sambil mendidik harus mau dididik dan mendidik diri dalam doa dan pembicaraaan bersama, dengan berkonsultasi mencari para ahli, para guru rohani, untuk menemukan pola, arah dan jalan yang dikehendaki oleh Tuhan Pencipta. Kita ibarat orang mau membangun, harus tahu membaca gambar, memilih material untuk bangunan, yang dipesan oleh Tuhan Pencipta dan tetap Pemilik satu-satunya. Seperti meneliti kondisi tanah tempat bangunan perlu, untuk dimanfaatkan secara optimal, demikian setiap zaman (juga sekarang) setiap situasi (kemiskinan seperti di Nazaret, di India, di Afrika, dan Amerika Latin), di pelosok-pelosok negara kita minta pemikiran dan pengolahan serta doa dan restu Tuhan untuk diambil kemungkinan-kemungkinan yang paling optimal!
John Tondowidjojo, CM