PELAYANAN
'Servus servorum' artinya pelayan dari segala pelayan. Spiritualitas pelayanan ini dimiliki para Paus dalam Gereja Katolik. Sebab Yesus, sang pemimpin agung Gereja, telah sejak awal dengan sangat tegas menggariskan substansi kepemimpinan dalam konteks Gereja: "Siapapun yang terbesar di antara kamu, hendaknya ia menjadi pelayanmu". Jadi kehormatan terbesar dalam Gereja bukanlah kepemimpinan, melainkan pelayanan. Romo Mangun menjadi tokoh besar nasional bukan karena menjadi pemimpin partai Katolik, atau pernah menjadi seorang uskup metropolit, tetapi justru karena beliau pernah hidup bersama dan melayani manusia marginal di Kali Code, Yogyakarta. Namun itu bukan berarti hanya pelayan tertahbis saja yang perlu menjadi servus servorum, melainkan semua yang terlibat dalam kepemimpinan institusi gerejawi harus menjadi pelayan semua terutama dalam hal mencapai tujuan akhir hidup manusia, yakni Kerajaan Allah. Karenanya, jika ada pelayan Gereja yang mencari-cari kekuasaan dan kehormatan dari jabatannya, maka seperti kata Maleakhi, Tuhan akan menghinakan dan merendahkannya. Sebaliknya, para pemimpin gerejawi yang sungguh-sungguh melihat dirinya sebagai hamba dari semua hamba, akan dihormati oleh Tuhan, sebab "Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan". (Mat 23:12) Etika profesi pun menyebutkan bahwa pekerjaan yang sesungguhnya adalah sebuah pelayanan dan bukan mencari pangkat dan uang. Jadi pekerjaan terbesar umat manusia adalah melayani.
Godaan untuk berkuasa sebagai seorang pemimpin perlu terus diwaspadai. Sebab kepemimpinan berkaitan erat dengan kekuasaan. Pada dasarnya kekuasaan itu adalah baik sejauh dimanfaatkan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih mulia, kesempurnaan. Namun, jika kekuasaan mulai menjadi tujuan dan kemudian dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan personal, maka hilanglah legitimasi kekuasaan itu, bahkan akan menjadi sebuah senjata yang mematikan.
Saudaraku, kepemimpinan dalam konteks Gereja lebih merupakan sebuah autoritas untuk melayani kebutuhan rohani umat yang digembalakannya. Sejauh mana Anda terus menyadari dan membaktikan diri untuk melayani sesama sebagai seorang pelayan? (Hd.)