MUJIZAT MENYENTUH DENGAN BELAS KASIH
Meski pada jaman modern ini penyakit lepra atau kusta sudah bisa diatasi sedemikian rupa, akan tetapi penyakit ini masih tetap sangat menakutkan. Bahkan orang yang telah sembuh dari lepra pun akan tetap disingkiri oleh warga masyarakat. Pada jaman Yesus, ketika pengobatan belum begitu maju, penyakit lepra menjadi titik terendah dalam hidup manusia, karena dia akan dibuang ke pinggiran kota, diasingkan ke gua-gua, atau tebing jurang supaya tak berkontak dengan sesamanya. Begitu ada tanda-tanda terjangkit lepra, dibadannya harus dipasang sebuah tanda bertuliskan: “najis, najis” atau kotor, sehingga orang tidak akan mendekat. Kita bisa membayangkan hancur remuknya perasaan penderita lepra.
Dalam konteks seperti itu marilah kita melihat apa yang dilakukan Yesus. Ia berbelas kasih, mengulurkan tangan, dan menjamah orang itu. Tindakan ini sungguh tak mungkin dilakukan orang pada jamannya. Jamahan Yesus menjadi ungkapan belas kasih yang tanpa batas terhadap orang itu. Tak heran kalau orang itu seperti banjir ekspresi yang tak terbendung lagi dengan benteng apapun. Meski diwajibkan untuk melapor dulu kepada imam yang berwenang menyatakan pemulihannya, namun orang ini justru ke sana ke mari mengabarkan karya agung Tuhan dalam dirinya. Ia telah disembuhkan oleh jamahan Yesus.
Meski telah sangat sedikit kasus kusta di dunia, akan tetapi pada jaman modern ini pengasingan terhadap sesama seperti yang terjadi pada orang kusta itu masih terus terjadi, bahkan sangat mebelenggu bertumbuhnya persaudaraan sejati. Berapa anak kita yang tak mau sekolah lagi karena diasingkan di kelasnya, bahkan di-bully. Berapa orang yang diasingkan karena pernah dipenjara. Berapa orang yang diasingkan karena dianggap “tak selevel” dengan teman-temannya. Berapa orang tua dan sakit yang merasa terasingkan karena sudah dianggap tak berguna dalam keluarga. Berapa orang yang diasingkan karena dari suku berbeda, bahkan kadang hanya karena penampilan fisik yang kurang simpatik.
Kalau jamahan Yesus terhadap orang yang terasing itu sudah membebaskannya, jamahan proaktif anda pada jaman ini pasti juga bisa membebaskan sesama untuk bangkit dari keterpurukan dan hidup baru dengan penuh harapan. Kalau jamahan Yesus telah memulihkan martabatnya sebagai manusia, pasti jamahan anda terhadap orang terasing jaman ini akan memulihkan martabat dan kepercayaan dirinya. Kalau jamahan Yesus telah membuat yang tadinya mengurung diri lalu keluar melayani, pastilah jamahan anda juga akan membuka belenggu-belenggu saudara-saudari kita dan mendorongnya untuk bangkit melayani dan mengabarkan kebaikan Tuhan.
St. Vinsensius telah memulihkan harkat martabat kaum miskin dengan pendekatan penuh kasihnya, Bunda Teresa telah membuat orang yang tua-tua dan sakit merasa dihargai sebagai manusia dengan pelayanan nyatanya, banyak orang di lorong-lorong kota kita telah dibangkitkan kepercayaan dirinya oleh sesamanya yang meluangkan waktu untuk hadir dalam keluarganya. Semua itu menunjukkan bahwa belas kasih Allah masih bisa menjadi mujizat hingga saat ini. Orang asing di sekitar kita menunggu kaki kita untuk melangkah kesana, tangan kita untuk melayani, dan mulut kita untuk tetap mengabarkan kemurahan Tuhan.
Rm. Ignatius Suparno, CM