MERENUNG SEJARAH PAROKI KRISTUS RAJA
Sebelum kedatangan para Romo Lazaris (Congregatio Missionis / CM) sebenarnya di daerah Ketabang sudah ada warga katolik yang bermukim di situ, mereka merupakan keluarga-keluarga yang bekerja di CBZ (Rumah Sakit Umum Pusat) Simpang. Jawatan Kereta api dan Balai Kota (Stadshuis) di Ondomohen. Namun mereka pada umumnya adalah warga Belanda dan Indo-Belanda, warga pribumi dan keturunan Tionghoa masih sedikit jumlahnya yang menjadi Katolik. Pada tahun 1924 Romo J.H. van Megan, CM setelah berada di Surabaya langsung ditempatkan di seputar Ketabang pada tanggal 15 Oktober 1924, walau beliau sendiri tinggal di Kepanjen. Beliau membantu pelayanan rohani di CBZ “Simpang”, beberapa Sekolah Ongko Sidji (Sekolah Dasar Jaman Belanda khusus warga Pribumi) di Gubeng dan di Simpang dan beberapa keluarga di sekitar Simpang, Gubeng, Ketabang dan sekitarnya. Dari sisi kependudukan daerah Ketabang tahun 1925 merupakan daerah pemekaran kota Surabaya yang awalnya di sekitar Jembatan Merah sebagai pusat kota, pindah di Aloon-aloon Straat (daerah Kebonrojo – Tugu Pahlawan sekarang) hingga Ondomohen. Semua itu tidak menutup kemungkinan banyak warga baru di sekitar Ketabang yang dekat dengan pusat kota. Pada saat itu semua kegiatan kerohaniannya Umat Katolik daerah Ketabang masih dipusatkan dan dilayani dari Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen. Terhitung pada tanggal 31 Mei 1927 Romo G.W. Litjens, CM diangkat menjadi Vloot Aalmoezenier (Romo Angkatan Laut Kerajaan Belanda). Guna memudahkan karyanya Romo G.W. Litjens, CM tinggal di Ketabang Boulevard 72 Surabaya (sekarang Jl. J.A. Suprapto). Tugasnya di samping sebagai Romo Angkatan Laut Kerajaan Belanda, dia juga sebagai Pembimbing Rohani pada CBZ (Centraal Burgelijke Ziekenverpleging = Rumah Sakit Umum) Simpang. Sekarang Jl. Pemuda yang jadi Delta Plaza. Selain itu juga Pembimbing Rohani RKZ (Roomsch Katholieke Ziekenhuis) di Jalan Undaan (Sekarang Jl. Undaan Kulon). Hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa Romo G.W. Litjens, CM juga melayani kegiatan rohani warga sekitar Ketabang. Dengan demikian sejak saat itu daerah Ketabang menjadi Stasi rezmi (Quasi Paroki) dari Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen-Surabaya.. pada saat itu belum ada gedung resmi sebagai Gereja, namun jika ada kegiatan besar secara khusus seperti Natal dan Paskah lalu dirayakan di HBS (Hoogere Burgerschool) yang sekarang SMA Negeri di Jl. Wijaya Kusuma. Selama Romo G.W. Litjens, CM bertugas di CBZ dan membina umat di sekitar Ketabang, perkembangan jumlah Umat semakin meningkat. Pada tahun 1928 jumlah permandian dari daerah Ketabang ada 130 orang pria dan 127 orang wanita. Tercatat pula pada saat itu jumlah perkawinan menurut buku induk no 142-180 ada 21 pasangan menerima Sakramen perkawinan dan 18 pasangan kawin campur sehingga jumlahnya mencapai 39 pasang. Pada akhir Juli 1929 gedung sekolah St. Theresia diberkati oleh Mgr. Dr. Th. De Backere, CM menjadi Prefek Apostolik sejak 16 September 1928 dan beliau mempunyai motto “Parare Vias Domini” (Mempersiapkan Jalan-jalan Tuhan). Kepala sekolah pada waktu itu ialah Tuan F.L. JM. Scheepens. Dan tg. 8 Februari 1930 berlaku 1 Juli 1930 sekolah St. Theresia sudah diakui oleh Instantie voor Opvoeding en Kultuur (P & K) Pemerintah Hindia Belanda. Dengan adanya gedung sekolah ini maka di salah satu ruang dirayakan Misa Kudus. Dan dijadikan “Hulpkerk Theresia” (Gereja bantu Theresia atau Gereja stasi Ketabang). Dan tahun 1933 bernama Kristus Koning Kerk , dan 22 Oktober 1937 pada waktu Mgr. Dr. M. Verhoeks, CM jadi Prefek Apostolik menggantikan Mgr. DR. Th. De Beckere, CM dengan motto “Ut Omnes Unum Sint” (Agar Mereka Semua Menjadi Satu).
Rm. John Tondowidjojo, CM