MENYELAMI MAKNA SALIB
'Tuhan..., haruskah ini terjadi?' Jerit hati 'protes' kepada Tuhan, saat seorang harus menerima kenyataan pahit, orang yang sangat dicintainya meninggal atau menderita sakit yang tak kunjung sembuh sehingga membuatnya tak kuasa menerima 'salib' berat yang harus dipikulnya. Memang tidak mudah menerima peralihan situasi ini. Seperti ketika Yesus harus menghadapi kenyataan para murid-Nya tercerai-berai dan mengkhianati Dia. Dia dicari cari, dikejar, diperangkap, ditangkap, disiksa dan dihukum mati sebagai penjahat. Di tengah perlawanan dan permusuhan itu Yesus tetap melayani umat-Nya dan mewartakan Kerajaan Allah. Dia belajar taat dalam penderitaan-Nya. Itulah awal kemuliaan-Nya. Kemuliaan Kristus adalah ditinggikan di atas salib, mati lalu dibangkitkan. Dia bangkit dari kematian menuju kemuliaan. Kemuliaan Anak Manusia bagaikan 'biji gandum yang jatuh ke dalam tanah, mati, lalu menghasilkan banyak buah' (bdk. Yoh. 12:24). Oleh karena itu, kita sebagai insan beriman, tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan sendiri dan sesama manusia, kita harus mengandalkan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah; menerima 'salib' dengan tenang penuh kepasrahan kepada yang Ilahi. Sikap ini dapat membuat kita lebih teduh, tabah, pasrah dan bijak ketika harus melewati 'jalan salib'; bahkan kita lebih mampu terus berjuang menyelesaikan 'jalan salib' kehidupan ini, meski terasa berat menuju kemuliaan-Nya.
Jerih payah, korban, dan sengsara yang kita terima dengan rendah hati, taat-setia dan percaya pada Kristus yang bangkit membuat kita sanggup menerima, baik 'salib' diri kita sendiri maupun sesama dengan penuh harapan. Inilah awal keselamatan. Dengan demikian, perjalanan hidup kita bersama Dia dalam kemuliaan Bapa menjadi lebih bermakna bagi keselamatan banyak orang. Sebab kepada kita sebagai insan beriman, tidak pernah dijanjikan samudera yang teduh, namun yang dijanjikan adalah pelabuhan yang aman. Nah, marilah kita menyelami makna 'salib hidup' ini bersama Kristus yang bangkit.
Saudaraku, beranikah Anda memanggul 'salib' mengikuti Yesus dalam perjalanan hidup ini? Apa upaya Anda agar tetap sanggup menyelami makna 'salib' dalam kehidupan bersama sesama? (Hd.)