arrow_back Kembali
Ruang Katekese 08 November 2017

MENJADI PELAYAN

MENJADI PELAYAN

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Mat 23:11).
Berrefleksi perihal melayani kiranya kita dapat bercermin pada pelayan yang baik entah di dalam keluarga/komunitas atau tempat kerja. Cirikhas pelayan yang baik antara lain datang/bangun  lebih awal dan pulang/istirahat lebih kemudian daripada anggota keluarga/komunitas atau para pekerja di tempat kerja, imbal jasa kecil, senantiasa ceria, tanggap dan cekatan, berusaha membahagiakan yang dilayani dst.. Jika pelayan tidak memiliki cirikhas tersebut diatas pada umumnya tidak layak menjadi pelayan.
Berusaha membahagiakan yang dilayani itulah yang kiranya baik kita refleksikan atau renungkan serta hayati.  Maka pertama-tama, siapapun yang merasa ‘terbesar’ dalam kehidupan dan kerja bersama untuk senantiasa berusaha membahagiakan orang lain yang harus dilayani atau yang membantu tugas dan fungsinya. Cirikhas pemimpin yang baik dan sukses dalam melaksanakan fungsinya ialah semua yang dipimpinnya atau menjadi bawahannya hidup dalam damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Tugas membahagiakan orang lain juga menjadi tugas semua umat beriman, maka marilah kita hidup dan bertindak saling membahagiakan dan menyelamatkan terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa.
Mengingat dan memperhatikan bahwa mayoritas dari kita adalah hidup berkeluarga alias menjadi orangtua dari anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan, maka marilah kita semua sebagai orangtua untuk senantiasa berusaha membahagiakan anak-anaknya. Kebahagiaan sejati orangtua terkait dengan anak-anaknya adalah ketika anak-anak tumbuh berkembang menjadi orang yang sehat dan cerdas beriman. Pelayan senantiasa mengasihi yang dilayani dengan memboroskan waktu dan tenaga mereka bagi yang dilayani. Maka marilah kita sebagai orangtua untuk dengan rela dan besar hati memboroskan tenaga dan waktu bagi anak-anak, terutama bagi anak-anak selama masa balita.
Pemborosan waktu dan tenaga sebagai wujud kasih pelayanan kiranya juga baik untuk dihayati oleh para pemimpin di dalam kehidupan atau kerja dimanapun dan kapanpun. Hendaknya para pemimpin karya atau hidup bersama, turun ke bawah untuk menyapa dan memberi perhatian kepada anggota  atau bawahannya, tidak duduk manis di kamar sambil minum-minum atau melamun. Demikian pula dengan para guru atau pendidik di sekolah-sekolah untuk mendidik dan mendampingi para peserta didik dalam hal semangat melayani, misalnya sering mengajak peserta didik untuk hidup dan bekerja sama dengan para pemulung, ‘live in’, mengunjungi panti asuhan dst..
Saudaraku, marilah kita meneladan Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil 2:6-7).