MENGASIHI YESUS
Minggu ini adalah Minggu Kitab Suci Nasional. Kita harus mengakui bahwa masih banyak orang katolik belum setiap hari hidup dari Sabda. Sabda Allah dalam Kitab Suci belum sungguh menjadi manusia, belum mewujud dalam hidupnya sehari-hari. Perlu disadari kita membaca Kitab Suci pertama-tama agar kita semakin mengenal, mengasihi, dan mengikuti TuhanYesus.
Mengikuti Yesus sungguh-sungguh membebaskan! Namun jangan buru buru senang, karena untuk sungguh-sungguh bebas itu sulit dan berat. Kita sangat tergantung pada banyak hal, dan sulit melepaskan ketergantungan kita, dan itulah yang menyebabkan kita tidak dapat sungguh-sungguh mengikuti Yesus. Kita hanya dapat mengikuti Yesus kalau kita mengasihiNya lebih dari segala sesuatu! Sama seperti kalau kita mengasihi seseorang, dan percaya penuh kepadanya, berani menyerahkan diri kita kepadanya, maka kita rela dan berani meninggalkan segala sesuatu untuk mengikutinya. Ini terjadi pada suami istri. Mereka berani meninggalkan segala sesuatu daerah asalnya, bahkan orang tua dan keluarganya, untuk bersatu dengan pasangannya, dan membangun keluarga baru bersamanya. Hanya dengan memahami hal ini, maka tuntutan untuk mengikuti Yesus dapat kita pahami.
Pertama, Yesus menuntut kita untuk melepaskan segala ketergantungan kita pada orang-orang yang sangat dekat dengan kita, orang tua, keluarga dan sanak kita.Tuntutan ini mustahil kita ikuti kalau kita tidak sungguh mengasihi dan percaya kepada Yesus, sedikitnya seperti seorang isteri pada suaminya atau sebaliknya.Tanpa kasih semua itu mustahil, bahkan gila! Namun dengan kasih semua itu menjadi masuk akal dan gampang dimengerti, walau tidak mudah. Ini juga tidak berarti kita harus memisahkan diri dari keluarga, tidak perlu berbakti pada orang tua. Tapi pilihan yang jelas: mengasihi Yesus di atas segalanya. Justru dengan sikap dasar ini kita akan dapat mengasihi keluarga dan orang tua kita secara sehat dan benar.
Kedua, Yesus menuntut kita untuk menyangkal diri dan memanggul salib kita. Ini juga tuntutan konyol bila dimengerti tanpa kasih, namun sangat masuk akal kalau dimengerti dengan kasih. Suami harus menyangkal diri dan memanggul salib untuk dapat mengasihi isterinya, begitu juga sebaliknya. Namun bila mereka saling mengasihi segala susah payah memanggul salib itu untuk membangun keluarga baru itu sungguh membahagiakan. Segala pengorbanan dilakukan dengan senang hati.
Ketiga, Yesus meminta kita untuk berani menyerahkan segala yang kita miliki bila diperlukan untuk membangun relasi dengan Dia. Kita rela untuk membiayai berbagai kegiatan rohani atau amal social sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Keempat, Yesus juga menuntut kita untuk menyerahkan segala kekuatan dan kekuasaan kita kepadaNya. Kekuatan dan kekuasaan adalah jaminan keamanan, kesenangan, keselamatan kita. Karena itu tak mudah menyerahkan kepada orang lain. Namun kita sadar bahwa segala yang kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki selama ini tak bisa menjamin keselamatan kita. Kita tahu kekuatan dan kekuasaan kita tak ada artinya dibandingkan Yesus, inilah yang meyakinkan saya untuk berani berpasrah kepada Tuhan. “Jika Tuhan di pihak kita, siapa yang kita takuti?”
Menyerahkan keempat hal itu adalah perjuangan seumur hidup kita. Semakin besar dan semakin dalam penyerahan diri kita kepada Tuhan Yesus, semakin bebas kita untuk mengasihi dan mengikuti Dia, semakin terjamin dan bebas juga hidup kita, kebebasan sejati yang hanya ada dalam Dia. (sad budi cm)