MENGALAMI ALLAH DAN MENJADI SAKSI-NYA
Perayaan Paskah sudah lewat. Sudah dua minggu yang lalu. Namun, kita masih merasakan gemanya hingga saat ini. Kita masih merenungkan peristiwa terbesar dalam iman Katolik. Dan sesungguhnya, peristiwa Paskah mengajarkan banyak hal kepada kita semua.
Bagi orang Yahudi, Paskah berarti “TUHAN LEWAT”. Saat di mana mereka mengenang bagaimana Tuhan menyelamatkan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Dari sana mereka mengimani bahwa Allah tidak membiarkan bangsa yang dikasihi-Nya mengalami penderitaan yang tak tertanggungkan. Keyakinan demikianlah yang hingga kini masih kita warisi: Tuhan tidak akan membiarkan orang yang dikasihi-Nya menanggung beban yang tak bisa ia tanggung.
Di jaman para Rasul, Paskah dimaknai secara baru. Paskah merupakan sebuah peristiwa di mana “TUHAN YESUS BANGKIT DARI KEMATIAN.” Yesus mengalahkan kuasa maut. Dan barang siapa percaya kepada-Nya akan mengalami keselamatan. Sampai saat ini kebenaran ini tak pernah pudar. Kita akan sampai pada keselamatan ketika percaya pada Yesus (kesaksian hidup dan kebangkitan-Nya).
Namun, ada hal yang menarik yang bisa kita renungkan dari bacaan Injil yang kita dengarkan pada Minggu. Di sana dikisahkan bagaimana dua murid dari Emaus berjalan kembali ke Yerusalem untuk menyampaikan pengalaman perjumpaan mereka dengan Yesus yang bangkit. Berita sudah disampaikan. Tapi tak ada gaung apa-apa yang dicatat di dalam Injil. Tak ada berita sukacita. Tak ada berita rasa tenang. Bahkan saat Tuhan Yesus datang kepada para murid pun, mereka takut dan gemetar. Termasuk dua orang murid yang sudah mengalami Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Emaus. Bagaimana mungkin?
Tuhan Yesus heran atas rasa takut dan terkejut yang mereka tunjukkan. Ia pun mengajukan pertanyaan dan menunjukkan bukti bahwa itu adalah diri-Nya (tangan dan kaki-Nya yang bolong dan boleh diraba: ada tulang dan daging). Namun, mereka masih juga belum percaya. Mereka masih terlalu diliputi oleh rasa takut dan sedih yang sangat mendalam. Hingga kemudian Tuhan Yesus makan ikan goreng dan menjelaskan isi KS. Akhirnya mereka pun percaya dan diminta untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya.
Berapa kali Tuhan Yesus mampir dalam hidup ini tapi kita tak bisa melihatnya. Berapa kali kita ikut perayaan ekaristi, berapa kali kita menjalani pengakuan dosa, berapa kali kita ikut camp, ikut rekoleksi atau pun retret, tapi berapa kali pula kita masih meragukan Tuhan dalam hidup ini? Berapa kali kita menjalani hidup ini seakan-akan Tuhan tidak melihat perbuatan kita? Namun, inilah proses beriman. Para rasul pun juga mengalami hal serupa. Ketika hal itu terjadi pada diri kita, jangan putus asa. Pada saat-Nya nanti Tuhan akan membuka mata batin kita. Hingga akhirnya kita benar-benar mengalami kehadiran-Nya.
Sementara itu, para murid kesulitan percaya karena rasa SEDIH dan TAKUT yang luar biasa. Kesedihan dan Ketakutan kerap membelenggu kita untuk mengalami Tuhan Yesus. Sedih dan takut membuat kita tak bisa melihat rahmat Allah yang luar biasa besar. Bukan Tuhan Yesus yang tidak mampir dalam kehidupan kita. Kitanya yang kesulitan melihat-Nya di masa-masa sulit kita.
Pengalaman akan Allah adalah sebuah misi. Sebuah perutusan. Untuk berbagi. Pengalaman akan Allah itu bukan sekedar kita merasa Allah hadir dalam diri kita, tetapi sampai pada tahap mengubah hidup kita. Dan perubahan diri inilah yang kita bagikan. Bukan hanya dengan kata, tapi lewat kesaksian hidup bahwa Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Dan inilah kebangkitan, yakni ketika kita mengalami Allah dalam hidup ini dan mau menjadi saksi cinta kasih-Nya. (Rm. Johan, CM).