MENERIMA SUARA KENABIAN
Sudah menjadi tradisi Israel bahwa orang yang pulang kampung akan diminta berkotbah di kampung halamannya. Yesus pulang ke Kapernaum, kampung halamannya, dan memenuhi tradisi serupa. Semua orang takjub mendengar pengajaran Yesus. Namun kekaguman mereka terganggu kenyataan bahwa mereka mengenal Yesus sebagai orang yang datang dari antara mereka. Sehingga rasa kagum akan pewartaan kebenaran berubah menjadi penolakan pada pribadi Yesus. Demikianlah salah satu pengalaman kenabian Yesus.
Nabi adalah pewarta kebenaran firman Tuhan. Mereka bukan sosok yang sekedar menghibur dengan kata-kata penuh harapan palsu, melainkan sosok yang tanpa ragu menyampaikan kebenaran, termasuk menyampaikan tanpa kompromi kritik sosial yang memerahkan telinga. Yesaya menyitir firman Tuhan untuk menggambarkan panggilannya sebagai nabi: “Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku.” (Yeh 2:3).
Hingga jaman ini suara kenabian tak selalu datang dari kritikus sosial dengan gelar profesor dari universitas-universitas yang jauh dan ternama. Tak jarang suara kebenaran muncul dari orang-orang sekitar kita, datang dari orang yang lebih muda, datang dari kalangan miskin dan tak diperhitungkan masyarakat. Berhadapan dengan kenyataan-kenyataan seperti itu, kebenaran yang mereka wartakan sering dinomerduakan, tak didengarkan serius, bahkan cenderung ditolak mentah-mentah.
Suara kenabian berdaya guna bukan hanya karena baik dan benarnya suara tersebut, melainkan juga bahkan lebih-lebih karena kesiap sediaan kita untuk mendengarkan. Bila kita mengakui kenyataan tersebut, maka sebelum menerima suara kenabian patutlah kita membalik dulu pengertian kita, bahwa Tuhan bisa memanfaatkan siapapun orang di sekitar kita untuk mewartakan kebenaran firmanNya. Santo Vincentius a Paulo menyebut orang miskin guru dan tuannya, mengingat apa yang sering terjadi, bahwa orang miskin telah banyak mengajarkan kebijaksanaan hidup. Daya tahan, solidaritas, pengorbanan, dan kasih sayang yang tulus sering menjadi pembelajaran berharga yang sering diberikan orang miskin di sekitar kita.
Dalam peristiwa Yesus di atas, dikisahkan bahwa tak ada mujizat di Kapernaum. Hal itu terjadi karena orang dengan congkak mengukuhi pandangan lamanya. Perubahan hidup tak terjadi dalam diri orang-orang yang berkerumun. Apakah Anda juga sedang menanti mujizat? Serahkan telinga untuk mendengarkan firman Tuhan dengan rendah hati, dan berikan diri untuk menjadi manusia baru dalam nama Tuhan. Dalam kelemahan dan bersama orang-orang yang rendah hati, Paulus memandang kemurahan Tuhan. “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2Kor 12:9) (Rm. Ignas, CM.)