arrow_back Kembali
Renungan 08 March 2017

MENATA HATI DENGAN SUKACITA

MENATA HATI DENGAN SUKACITA

Sejarah hidup manusia telah berlangsung begitu lama. Begitu juga relasi yang terjalin antara manusia dengan penciptanya. Setelah 20 abad yang lalu Dia hadir dalam wujud nyata sebagai manusia dan menunjukkan karya-Nya (Mat.11:5) dan Tuhan masih berkarya sampai saat ini.
Tuhan bukan hanya menciptakan dunia pada awal kejadiannya, karya penciptaan-Nya berlangsung terus. Dalam perkembangannya, dunia semakin maju, manusia semakin pintar, teknologi semakin canggih. Seiring dengan kemajuan itu, kesadaran untuk melihat peran dan kehadiran Tuhan justru menjadi berkurang.
Lantas timbul fenomena baru yang menunjukkan bahwa manusia merasa asing terhadap penciptanya. Manusia merasa cukup dengan pelbagai kemampuan dan kemajuan yang dialaminya. Kehidupan rohani menjadi kering. Hati menjadi tumpul untuk mendengarkan suara Tuhan. Pelbagai bentuk kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dipandang sebelah mata. Tak sedikt pula yang meragukan kehadiranNya. Pada titik ini, banyak orang yang mengalami pengalaman serupa dengan pergulatan yang dialami oleh Yohanes Pembaptis. Keraguan Yohanes Pembaptis tampak dalam pertanyaan yang dititipkannya pada murid-muridnya,: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”
Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kita sudah memasuki minggu III Adven, hari Minggu Gaudette, sukacita dalam menerima kehadiran-Nya. Dalam kitab Yesaya sukacita tesebut digambarkan demikian,: “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga. Seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai” (ayat 1-2). Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Tuhan mendatangkan sukacita bagi semua orang. Sukacita tersebut hadir hingga memasuki setiap hati yang kering. Memberi pengharapan bagi tiap hati yang merindukan kehadiranNya.
Keyakinan akan sukacita tersebut menuntut tiap pribadi untuk menata diri. Tiap pribadi didorong untuk masuk dalam kedalaman diri, menata dan meneguhkan hatinya. Dengan maksud memantapkan keyakinan untuk menyambut kehadiran Tuhan. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam surat Rasul Yakobus,: “saudara-saudara, bersabarlah sampai kedatangan Tuhan, seperti petani yang menantikan hasil tanahnya yang berharga; ia sabar sampai turun hujan musim gugur dan hujan musim semi, demikian kamu pun harus bersabar dan meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Yak 5:7-8).
Pada akhirnya tiap orang diundang untuk menata hati dengan sukacita. Meneguhkan hati dalam pengharapan akan hari kedatangan Tuhan. Maka tidak ada lagi tempat untuk keragu-raguan akan kedatangan Tuhan. Setiap orang bersukacita karena karena kedatangan Tuhan sudah dekat!. Sebagaimana dinyatakan dalam Injil Matius,: “berbahagialah orang yang tidak sangsi dan tidak menolak Aku” (Mat 11:6).(Fr. Kornelius Ayub Dwi Winarso, CM.)