arrow_back Kembali
Ruang Katekese 12 August 2017

MENANGGUNG BEBAN DENGAN SUKACITA

MENANGGUNG BEBAN DENGAN SUKACITA

Banyak sekali orang yang kulihat di mall, mungkin karena sedang masa libur anak-anak sekolah. Ada banyak
penjual membuka stand di sana sini, berusaha menarik
perhatian pengunjung dengan berbagai harga promosi.
Entah kenapa, mataku tertuju pada stand yang menjual
alat-alat olah raga, dan di sana ada poster dan TV yang
menunjukkan orang memainkan barbel yang dapat
digetarkan, untuk membentuk otot tangan yang kuat. Sang pramu jual langsung menyapa, “Boleh, silakan mampir dan mencoba…. Bagus lho ini, untuk membakar lemak,membuat tangan jadi kuat dan berotot….” Aku tidak
membelinya, tapi merenung. Demikianlah, mungkin tak
sulit bagi kita untuk menghubungkan kegunaan latihan
angkat beban untuk menjadikan otot tangan dan tubuh
jasmani kita menjadi lebih kuat. Maka tak heran ada banyak orang yang mau bersusah-susah melakukan angkat beban, entah di rumah, ataupun di fitness center. Namun nampaknya lebih sulit untuk melihat kaitan antara beban kehidupan dengan jiwa rohani kita.
Pada umumnya, tak ada orang senang memikul beban
hidup, dan kalau bisa menghindarinya jauh-jauh. Tapi
kenyataannya, biarpun kita berusaha menghindarinya, dan
tidak pernah memintanya, beban hidup itu datang sendiri
kepada kita, entah karena keadaan yang tak terduga ataupun karena keputusan kita sendiri. Pergumulan hidup seperti tak pernah reda dalam kehidupan kita. Sejak kita kecil, memasuki bangku sekolah, kuliah, bekerja, berumah tangga, dan masa tua, semua menyediakan beban dan kesulitannya sendiri-sendiri. Kita mengalami bagaimana hari-hari harus dilalui dengan kerja keras tanpa boleh gampang menyerah.
Beragam pengalaman bertemu dengan orang lain juga
mewarnai semaraknya kehidupan kita. Kita bersukacita
dalam persahabatan yang tulus, namun juga terlukai jika
kepercayaan kita diingkari, dan kasih pengorbanan kita
dianggap sepi. Kita bergembira di saat segala sesuatu
berjalan mulus sesuai dengan rencana, namun kita mudah
putus harapan ketika ujian hidup menerpa, entah karena
sakit yang berkepanjangan, jatuh bangun mengalahkan
kebiasaan buruk, masalah pekerjaan, ataupun masalah
keluarga yang datang silih berganti. Tak mudah memang
untuk ‘bersahabat’ dengan beban hidup kita, dan
memikulnya dengan hati yang lapang. Tuhan Yesus
memahami pergumulan kita, maka Ia memberitahukan kepada kita jalannya agar kita tidak mudah menjadi letih
lesu. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan
sekaligus menegur kita. Yaitu agar kita mau menjalani
kehidupan kita bersama Tuhan Yesus, dan belajar dari-
Nya kelemahlembutan dan kerendahan hati (lih. Mat
11:29). Sebab pergumulan hidup yang dihadapi tanpa
Yesus, cenderung membuat orang menjadi tawar hati, atau bahkan keras hati. Namun bersama Yesus, kita akan
memperoleh kekuatan baru untuk menghadapi hidup ini
dengan suka cita. Di dalam Dia-lah kita dapat melihat
bahwa segala beban kehidupan yang Tuhan izinkan terjadi
di dalam kehidupan kita, sebenarnya dimaksudkan agar
menempa kita menjadi seorang yang lebih teguh di dalam
iman, dan lebih kuat dalam pengharapan dan kasih. Tuhan
Yesus akan menopang kita, Ia akan kembali menegakkan
kita jika kita terjatuh. Sebab “Tuhan setia dalam perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya” (Mzm 145:13). Yesus setia menyertai kita, dengan Roh Kudus-Nya yang berdiam di dalam kita, yang kita terima melalui Baptisan. Betapa kita perlu meresapkan kebenaran ini di dalam hati kita: yaitu bahwa Kristus ada di dalam kita, dan Roh-Nya yang telah membangkitkan Dia dari kematian akan terus menghidupkan kita (lih. Rom 8: 9-11). Kristuslah yang memampukan kita menjalani hidup
ini, menopang dan membantu kita mengalahkan kelemahan kita, agar kita dapat sampai kepada kepenuhan kebahagiaan abadi di Surga. Untuk itu kita perlu untuk senantiasa bersandar kepada rahmat dan belas kasih Allah.
Saudaraku, mari kita melihat hidup tidak pertama-tama
sebagai beban, tetapi sebagai jalan yang dapat menghantar kita ke Surga. Mungkin kita sering merasa kecil dan tak berdaya, tetapi justru dalam keterbatasan kita, kita dapat terus mengandalkan Tuhan. St. Theresia dari Liseux pernah berkata, “Lift yang mengangkatku ke Surga adalah lengan-Mu, O Yesus… Aku harus tetap kecil,
menjadi lebih kecil dan semakin kecil. O Tuhanku, Engkau
melampaui segala yang kuharapkan, dan aku akan
mengumandangkan belas kasih-Mu.” Setiap kali kita
merasa lelah di dalam hidup ini, kita dapat mengingat bahwa lengan Tuhan Yesus menopang kita. Oleh karena itu, kita mempunyai alasan untuk bersuka cita, sebab Tuhan tiada pernah meninggalkan kita! Tuhan selalu menyertai kita.