MEMBANGUN KASIH
Bacaan hari Minggu ini berkisar pada pokok kesalehan nyata, yaitu sikap kita terhadap sesama yang bermasalah. Yehezkiel memikirkan tanggung jawabnya sebagai penasehat. Kutipan bacaan pertama Minggu ini merupakan bagian dalam pembicaraan tugas Yehezkiel sebagai penjaga “iman” (lih. Yez 33:1-20). Berkat panggilannya Yehezkiel tampil bagi rekan-rekannya yang terbuang sebagai penjaga “iman”. Pada Yeh 33:2-6 digambarkan perumpamaan penjaga “iman”, sedang mulai ayat 7 ditegaskanlah tugas nabi sebagai yang mengingatkan perseorangan (bdk. 14:21; 18:1). Dalam hidup bersama dalam iman tugas penggembalaan ini penting. Orang tidak boleh menirukan Kain yang berseru : “adakah aku gembala saudaraku?” (Kej 4:9). Memang orang beriman mempunyai penjaga dalam hidup iman, namun tidak menghilangkan tanggung jawab bersama bagi sesamanya.
Menggembalakan jemaat yang tersingkir tentu bukan tugas yang mudah. Yehezkiel sadar bahwa tugas penggembalaan umat harus dilaksanakan dalam situasi yang sangat berat, yaitu masa pembuangan.
Di tengah-tengah bangsa terbuang itu Yehezkiel merasa wajib mengingatkan umatnya akan penyelenggaraan ilahi yang menimbulkan harapan. Jemaat yang terbuang, bagaimanapun juga merupakan jemaat kesayangan Allah. Allah tidak berpangku tangan dalam kenisah Nya, melainkan terlibat dalam derita umat Nya. Tugas nabi ialah mengkonkritkan penyelenggaraan Allah itu bagi mereka yang putus asa. Yehezkiel mewartakan arah pembinaan jemaat Allah. Nabi membangun kesadaran atas perjanjian Allah yang abadi (bdk Yer 31:31-34; Yez 36:26.27). Menjadi tugas pewarta berarti mempertemukan manusia dengan Allah yang mengasihi itu, sehingga orang berkembang dalam kasih Allah. Tugas ini sangat tergantung dari situasi di mana umat berada.
Dalam hidup menggereja seringkali kita juga harus berhadapan dengan saudara seiman yang “salah jalan”. Adalah kewajiban kita sebagai saudara untuk membawa dia “kembali ke jalan yang benar”. Bersikap masa bodoh pada saudara seiman yang “salah jalan” itu, bukanlah sikap yang tepat.Harus diakui bahwa membawa saudara seiman “kembali ke jalan yang benar” bukanlah tugas yang selalu mudah. Sering saudara seiman yang “salah jalan” tidak mau mendengarkan masukan baik dari seluruh jemaat apalagi dari pribadi-pribadi. Karena mungkin cara kita ini menyelesaikan permasalahan saudara kita dengan cara yang kurang bijaksana bahkan kurang kasih. Kalau seseorang bermasalah yakin bahwa kata-kata kita ini keluar dari hati yang penuh kasih, maka niscaya orang yang bermasalah itu akan rela membenahi dirinya.
Paulus menginginkan hidup kristiani bagaikan ibadat, “.....demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. (Rm 12:1-2). Hal ini tercapai dengan kasih. Maka segala bidang moral baik hidup bersama (Rm 12 : 9-21) maupun hidup pribadi (Rm 12:3-8) pun pula hidup sebagai warga negara dalam pemerintahan (Rm 13:1-7), semuanya itu diukur menurut dan diberi pedoman oleh kasih terhadap sesama.
Bahaya yang dihadapi oleh orang yang bertugas semacam ini ialah bila ia mengaburkan Warta Kasih itu, dan mulai mencari kepentingan diri sendiri. Ia tetap harus sadar mewartakan misteri kasih Allah tanpa takut dan tanpa jemu.
Rm. J.Widajaka CM