MARI IKUTLAH AKU...
Dalam Injil, Matius mengisahkan perjalanan Yesus menyingkir ke daerah Galilea, dan diam di kapernaum. Kisah tersebut ditempatkan diantara dua peristiwa yang sangat penting dalam pelayanan Yesus. Peristiwa pertama yang mendahului kisah ini adalah tentang pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus (Mat 4:1-11). Peristiwa kedua setelah kisah ini adalah tentang pemanggilan murid-murid yang pertama (Mat 4:18-22). Peristiwa pertama menandai kemenangan Yesus dalam menghadapi pencobaan, sedangkan peristiwa kedua menunjukkan langkah penting yang dilakukan Yesus sebelum memulai pelayanan-Nya. Hanya Matiuslah yang mengisahkan dengan lebih lengkap peristiwa penyingkiran Yesus ke Galilea.
Matius melihat bahwa kehadiran Yesus di wilayah Zebulon dan Naftali sebagai kehadiran yang istimewa. Kedua wilayah tersebut termasuk wilayah dari bangsa-bangsa lain (Mat 4:15). Artinya, kedua wilayah tersebut tidak termasuk dalam bagian bangsa-bangsa Israel pada umumnya. Mereka tergolong bangsa asing. Dalam benak orang Israel, keselamatan tidak mungkin terjadi atas bangsa-bangsa di luar Israel. Namun argumentasi ini dipatahkan oleh kehadiran Yesus. KehadiranNya di kedua wilayah tersebut digambarkan sebagai kehadiran Sang Terang,: “bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang naungi maut telah terbit Terang” (Mat 4:16).
Dewasa ini pembahasan mengenai makna keselamatan bergema di pelbagai belahan dunia. Masing-masing pihak mengklaim keselamatan sebagai milik kelompok atau golongannya. Lantas semua orang yang berada diluar kelompok tersebut dipandang tidak layak mendapat keselamatan. Fakta-fakta terbaru bahkan menunjukkan fenomena yang mencemaskan, yang tidak segolongan atau sepandangan dipandang layak untuk diserang ataupun dimusnahkan. Hal ini dapat dilihat dari rangkaian peristiwa teror yang dilakukan oleh ISIS di Timur Tengah, Boko Haram di Afrika Barat, juga termasuk penganiayaan yang dialami Etnis Rohingya di Myanmar. Perbedaan dipandang sebagai persoalan yang meresahkan, sehingga perlu diselesaikan. Sungguh mengerikan.!
Kehadiran Yesus hendak membuka mata setiap orang, bahwa Ia datang untuk menghadirkan keselamatan. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memperoleh keselamatan tersebut. Adapun keselamatan tersebut dapat ditemukan dengan jalan mengikuti Yesus,: “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Syarat untuk mendapatkan keselamatan tersebut tidak hanya sekedar percaya kepada Kristus, namun juga siap melakukan pertobatan. Bertobat dalam hal ini berarti berusaha mengarahkan hidup kepada Allah melalui Yesus Kristus. Yesus bersabda demikian, “mari ikutlah aku…” (Mat 4:19). Setiap orang yang bertobat diundang untuk mengikutiNya. Meninggalkan kehidupan lama dalam dosa, dan berusaha hidup baru seturut ajaran Kristus dalam komunitas murid-murid Kristus. (Fr. Ayub Dwi Winar, CM)