arrow_back Kembali
Ruang Katekese 17 October 2016

MAKNA KRISTOLOGIS DAN EKLESIOLOGIS KEMATIAN

MAKNA KRISTOLOGIS DAN EKLESIOLOGIS KEMATIAN

Kematian sebagai jalan menuju dunia baru. Pandangan ini yang mendorong manusia untuk saling mencintai dan saling menolong. Ada yang datang memberi hiburan, ada yang datang memberi pertolongan. Namun yang paling khas adalah mendoakan keselamatan arwah dan ketabahan keluarga yang ditinggalkan.

Makna Kristologis
Kematian sebagai jalan menuju ke dunia yang baru, dunia kekal, bahagia. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan tetapi jalan dari dunia sementara ke dunia yang kekal.
Gereja mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk bahagia. Dengan pemahaman tersebut berarti iman umat kristiani yakin bahwa kematian itu akan dipulihkan oleh penebusan Kristus yang mahakuasa dan penuh belaskasihan. Sebab Allah telah dan tetap memanggil manusia dengan seutuh kodratnya bersatu dengan Allah dalam persekutuan kekal-abadi kehidupan ilahi yang tak kenal binasa. (Bdk GS.18). Hal ini mengungkapkan inti dari soteriologi Kristen. Artinya refleksi atau pemikiran teologis terhadap keselamatan (soteria ) dan penebusan. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal" (Yoh 3:16)
Kebaikan kasih Allah dengan mengutus PutraNya menuntut sikap penyerahan diri manusia kepada kasih Allah. Penyerahan diri berarti membiarkan diri dikuasai oleh Allah sekaligus adanya sikap untuk kembali kepada Allah sebagi sumber hidup. Kematian manusia juga berarti sapaan Allah untuk bersatu dengan-Nya. Allah membangkitkan kita seperti Allah membangkitkan Yesus. Jadi kebangkitan kita merupakan berkat kebangkitan Kristus untuk menyelamatkan manusia. "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu".(1 Kor 15:17).
Karena iman kita kepada Kristus melalui pembaptisan, kita disatukan dengan kematian Kristus, sehingga kitapun boleh ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Maka iman kita bukanlah iman yang sia-sia, iman kita bukan percaya kepada Allah orang mati melainkan Allah orang hidup. Kematian kita bukanlah akhir dari segala-galanya, melainkan jalan untuk bersatu dengan Allah. Kematian telah mengubah tubuh kita yang fana menjadi kehidupan abadi berkat kebangkitan Kristus.

Makna Eklesiologis
Sebagai umat beriman, kita percaya bahwa orang-orang yang telah meninggal dunia membutuhkan doa-doa kita. Ketika ada orang meninggal dunia selalu ada doa, ibadat dan perayan Ekaristi. Ini mengungkapkan iman Gereja.
Gereja percaya bahwa ada kesatuan antara orang yang sudah meninggal dengan kita yang masih hidup. Misalnya, kita yang masih hidup disebut Gereja yang masih mengembara, mereka yang sudah bahagia di surga disebut Gereja yang mulia dan mereka masih di api penyucian adalah Gereja yang sedang menderita. Kesatuan antara Gereja terungkap dalam doa-doa gereja. Amin.