arrow_back Kembali
Renungan 30 June 2018

KOMUNIKASI DALAM KEBENARAN DAN KASIH

KOMUNIKASI DALAM KEBENARAN DAN KASIH

     

Hari Minggu Paskah VII biasa dikenal dengan nama Hari Minggu Komunikas sedunia. Tema hari Minggu Komunikasi sedunia tahun 2018 adalah “Kebenaran akan Memerdekakan Kamu: Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian”.Kita di zaman modern ini hidup dalam suasana persebaran informasi yang sering mendatangkan kegaduhan, kesedihan, tipisnya harapan, dan kecemasan. Yang malah laris dan suka didengarkan, dilihat, dicermati oleh hampir kebanyakan orang melalui radio, televisi, internet, dan sekarang medsos adalah berita perang, kekacauan politik, kegaduhan di masyarakat, dan sekarang ini juga hoax.Berita-berita negatif telah sedemikan rupa dikemas sehingga malah menjadi semacam tontonan yang menghibur.Kita diajak Paus untuk memproduksi berita-berita positif dan benar yang membangun masyarakat.
Dalam komunikasi menyampaikan kebenaran memang sangatlah penting. Tanpa komunikasi yang dibangun dengan dasar kebenaran maka kasih tidak akan bertumbuh dengan subur di dalam Gereja dan masyarakat. Paus Fransiskus memilih tema ini sebagai bagian dari usahanya untuk memberikan dukungan pada komitmen bersama untuk membendung penyebaran berita bohong, serta mengangkat keluhuran martabat jurnalisme dan tanggungjawab pribadi para jurnalis untuk menyampaikan kebenaran.
Kebenaran merupakan dasar dari komunikasi dan kasih. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini kiranya membantu kita untuk memahami bagaimana Tuhan membangun komunikasi dan kasih bersama manusia. Di dalam bacaan pertama, Lukas melaporkan bahwa salah satu tugas penting bagi komunitas para rasul adalah memilih salah seorang yang bisa menggantikan posisi dari Yudas Iskhariot. Petrus sebagai kepala Gereja perdana berdiri di tengah para saudara untuk membangun komunikasi bersama di antara mereka. Bagi Petrus, Yudas Iskhariot sudah memiliki masa lalu dan jabatannya sudah diambil orang lain. Jadi menurut Petrus, ”Haruslah ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kis 1:21-22).
Tugas sebagai rasul adalah menjadi tanda dan pembawa kasih Allah kepada orang lain. Jadi pokok pewartaan atau komunikasi sebagai rasul adalah tentang cinta kasih Allah yang ada di dalam Injil.Yohanes menegaskan dalam suratnya bahwa Allah begitu mengasihi kita sebagai manusia. Konsekuensi dari kasih Allah bagi kita adalah kita juga saling mengasihi satu sama lain. Jadi meskipun tidak seorang pun melihat Allah tetapi ketika kita saling mengasihi maka Allah berdiam di dalam diri kita dan kasih-Nya itu menjadi sempurna. Roh Kudus-Nya menguatkan kita untuk saling mengasihi. Kasih menjadi kuat karena kita mengakui bahwa Yesus sungguh-sungguh Anak Allah. Yohanes juga menegaskan bahwa kita semua telah percaya akan kasih Allah. Mengapa? Karena Allah adalah kasih dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Kita menemukan keutuhan komunikasi dan keindahan kasih dalam diri Tritunggal Mahakudus. Kita semua percaya pada satu Allah, dalam tiga pribadi  yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Bapa dan Putra saling berkomunikasi dalam Roh Kudus. Roh Kudus mempersatukan Bapa dan Putra dalam kasih dan sesungguhnya Bapa dan Putra itu satu adanya. Setiap keluarga dan komunitas manusia hendaknya belajar banyak dari Trituggal Mahakudus karena komunikasi mereka begitu sempurna. Tidak ada kebohongan dalam komunikasi Tritunggal Mahakudus. Keindahan kasih dalam komunikasi antara Bapa dan Putra dalam Roh Kudus ini adalah persekutuan yang mendalam antar pribadi sebagai manusia dan persekutuan dengan Tuhan. Komunikasih dari Tuhan adalah kehendak-Nya supaya semua orang memperoleh keselamatan.
Sabda Tuhan adalah komunikasi yang indah kepada manusia. Pengalaman iman akan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu dan keyakinan bahwa Roh Kudus selalu menjadi “cahaya hati” setiap orang seharusnya menjadi modal bagi setiap orang beriman kristiani dalam berkomunikasi.berkomunikasi pada akhirnya mampu memotivasi orang beriman dalam berproses memproduksi informasi dengan mengutamakan ‘kabar baik’ daripada ‘kabar buruk’.
Roh Kudus masih tetap bekerja menerangi hati dan pikiran setiap orang beriman kristiani bagaikan lentera di tengah kegelapan dan membuka jalan baru menuju keyakinan dan harapan senantiasa.Kepercayaan ini memungkinkan kita mampu melaksanakan pekerjaan kita dengan keyakinan bahwa mungkinlah bisa mengenali dan menyoroti hadirnya ‘ kabar baik’ di setiap cerita dan pada wajah setiap orang.
Fr. Diakon Ignatius Novan Agestyo, CM