arrow_back Kembali
Renungan 19 September 2018

KOMITMEN PERSONAL

KOMITMEN PERSONAL


"Sahabat sejati adalah mereka yang tetap hadir di saat penderitaan" demikian sering dikatakan orang-orang bijak. Kesetiaan bukanlah perkara mudah dan adanya suatu persahabatan yang sangat erat pun belum merupakan suatu jaminan bahwa orang yang bersahabat itu akan setia satu sama lain. Manusia selalu mempunyai pertimbangan strategis, entah itu disadari atau tidak, dan karena itu persahabatan sering dibangun atas dasar 'interese' tertentu dengan akibat bahwa persahabatan tidak pernah menjadi sesuatu yang personal. Persahabatan yang dibangun atas komitmen personal membuahkan kesetiaan, seperti halnya kesetiaan sepasang suami-isteri yang ideal.
Demikian halnya dibutuhkan komitmen personal dalam mengikuti Kristus. Masihkah kita tetap setia pada-Nya, bila secara personal, Yesus mengajukan tuntutan: "Jika seseorang ingin menjadi pengikutKu, ia harus menyangkal diri sendiri, memanggul salibnya, dan mengikuti Aku." (Mrk. 8:34)
Syarat pertama: siapa saja yang mau mengikuti Yesus harus menomor-duakan keinginan pribadi, membongkar egoisme, dan tidak menjadikan harta duniawi sebagai jaminan kebahagiaan hidupnya.
Syarat kedua: kesediaan memanggul salib, orang harus terus berjuang, mampu menerima kesulitan dan penderitaan sebagai jalan menuju kebahagiaan; maksudnya agar manusia seimbang dan realistis.
Syarat ketiga: keputusan personal karena keyakinan dan menemukan Yesus.
St. Fransiskus Asisi menemukan Yesus sebagai sang kemiskinan; St.Ignatius Loyola menemukan Yesus yang mulia; Ibu Teresa dari Kalkuta menemukan Yesus sebagai pendamping orang-orang yang terbuang dan sekarat. Mereka menemukan Yesus dan penemuan mereka dijadikan proyek-proyek besar kemanusiaan yang membuat Yesus besar dalam berbagai dimensinya. Namun ada pula orang yang sampai akhir hayatnya belum menemukan imannya secara personal, karena ia tidak pernah secara personal terlibat di dalam kehidupan Gereja. Hadir hanya tiga kali: dibaptis, menikah dan saat meninggal. Inilah orang beriman hanya secara konseptual bukan personal.  
Saudaraku, apakah Anda sudah menemukan Yesus secara personal, atau sedang membesarkan nama-Nya?  Atau Anda sedang ber-cuek-ria dan dengan rasa bangga berkata: e-ge-pe - emangnya gue pikirin! Yesus sabar menunggu jawaban Anda secara personal! (Hd.)