arrow_back Kembali
Renungan 16 March 2017

KITA ADALAH GARAM DAN TERANG DUNIA

KITA ADALAH GARAM DAN TERANG DUNIA

       
Suatu kali ada seorang mahasiswi memutuskan datang ke kantor dosennya. Hari sudah malam. Sang dosen juga sudah hendak pulang ke rumah. Ketika Ibu dosen ini mendengar pintu kantornya diketuk, dia langsung melihat ke pintu yang tembus pandang tersebut. Tampak di sana seorang mahasiswi yang penuh harap ia terima. Dengan rasa enggan dia mempersilahkan mahasiswinya masuk ke ruangannya.
Obrolan pun terjadi. Sang mahasiswi sedang mengalami persoalan keluarga yang demikian berat. Dia merasa bahwa kehadirannya tak diinginkan. Hampir setiap hari dia menerima pukulan dari Ibunya. Ingin rasanya dia pergi dari rumah. Namun sayang, dia masih belum bisa menghasilkan uang. Maka, terpaksa dia harus mendekam di rumah neraka itu. Dan hari itu, adalah puncak dari batas kemampuannya menahan segala siksaan.
Perbincangan berakhir.Keduanya memutuskan untuk pulang. Selama seminggu kemudian sang mahasiswi tak terlihat di kampus. Hingga suatu kali dia kembali menemui dosennya dengan wajah gembira. Perbincangan dengan bu dosen ternyata membuat hubungannya dengan ibunya kian membaik. Hingga akhirnya sang mahasiswi pun berkata, “Terima kasih, Bu. Karena malam itu Ibu sudah sudi mendengarkan saya. Sebenarnya, pada waktu itu saya sudah memutuskan untuk mati. Namun, perjumpaan dengan ibu mengubah jalan hidup saya.”
Kisah di atas bukan melulu milik bu dosen dan mahasiswi tersebut. Kisah di atas adalah kisah kita. Kita yang bergelut dengan persoalan hidup sehari-hari. Kita,yang dengan cara kita, berusaha untuk menolong sesama yang berkesusahan. Kita yang barangkali tak pernah menyadari bahwa pertolongan kecil kita mampu mengubah jalan hidup seseorang.
Hari ini kita mendengar kata-kata Yesus yang demikian indah, “Kamu adalah garam dan terang dunia.” Tak ada nada heroisme dalam kata-kata tersebut. Yesus hanya mengingatkan dan menegaskan identitas kita. Bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Bahwa ketika kita mengatakan bahwa kita pengikut Kristus, maka kehadiran kita harus sungguh dirasakan sebagai pemberi rasa dan warna yang menyejukkan bagi sesama kita. Dan hal ini tidak harus sesuatu yang fenomenal: Kesetiaan kita untuk melayani di dalam kegiatan menggereja;Kesediaan kita untuk mendengarkan keluh kesah tetangga kita; Ketekunan kita untuk menyisihkan hasil kerja kita untuk karya amal; Kesaksian hidup penuh cinta di dalam keluarga. Itu semua adalah jalan-jalan kecil yang bisa kita jadikan tolok ukur apakah kita benar-benar sudah menjadi garam dan terang bagi dunia. (JHN).