arrow_back Kembali
Ruang Katekese 18 June 2015

KEUTAMAAN YANG ILAHI

Baik dalam Kitab Suci  (lih. 1 Kor. 13:13) maupun dalam tradisi, kita mengenal ada tiga keutamaan ilahi, yakni iman, harapan, kasih. Ke tiga keutamaan ini merupakan dasar, pokok yang diperlukan untuk menggerakkan dinamika hidup rohani kita menuju kepada Allah.

     Iman berarti membuka dan melekatkan diri pada Allah Dan itu berarti bahwa iman bergerak dan berkembang secara real sejalan dengan realitas hidup di dunia ini. Iman membangkitkan dan menyadarkan kita sebagai orang beriman atas cinta Allah. Karenanya, iman membutuhkan usaha terus menerus dari pihak kita untuk menumbuh-kembangkan iman dengan segenap hati mengarahkan seluruh hidup kita sehari-hari pada terang ilahi.      Harapan kristiani selalu berpusat dan bertumpu kepada Kristus (1 Tim. 1:1; bdk.Kol. 1:27; Ef.2:12), sebab dalam iman, kita dapat melihat bahwa di dalam Kristus hidup kita mendapatkan arti dan harapan. Pada Kristus yang bangkit, kerinduan kita akan hidup kekal mendapatkan jawaban dan pemenuhan (Ef.2:13-19). Hambatan-hambatan yang kita alami dalam hidup  telah dibinasakan oleh Kristus (lih. Rm. 6:8-14). Rahmat Kristus-lah yang memungkinkan kita dapat mengalahkan dosa dan mengatasi hambatan-hambatan sehingga membuat kita semakin berkembang dan merindukan serta menginginkan apa yang dikehendaki  Allah.  Meskipun dirasa sukar, namun kita memiliki suatu keyakinan dan kepastian akan bantuan Allah. Sesungguhnya, semakin kita mengalami kesukaran, hambatan, tantangan, kita semakin dipanggil untuk menyandarkan diri pada kekuatan dan bantuan Rahmat   Allah. Dengan demikian, kita sebagai orang beriman kristiani sejati, semestinya  tidak lagi mengenal ‘putus asa’ dalam hidup ini.

   Pencobaan dan kesukaran hidup yang kita alami, justru semakin membuat kita terus menerus menyandarkan dan memurnikan harapan dengan  bergantung dan melekatkan diri pada rahmatAllah. Daya-daya kodrati kita sebagai manusia semakin dirohanikan,diillahikan meskipun kita mengalami ketidak-mampuannya sebagai manusia. Dengan demikian kita semakin didorong, digerakkan untuk mengatasi dan menghayati hidup secara baru, sejalan dengan kekuatan rahmat Allah. Sehingga kita dapat semakin bersikap positif terhadap situasi diri dan hidup penuh penyerahan diri pada rencana Allah. 

     Cintakasih merupakan isi kesatuan hidup manusia dengan Allah (Yoh.14:23). Kesatuan dengan Allah itu mengarahkan seluruh kegiatan, aktivitas hidup kita, baik hidup moral maupun hidup ilahi. Jadi seluruh hidup kita harus bersendikan pada cinta, sebab cinta mengarahkan kita kepada hidup kekal, bahkan membuat kita mengalami hidup kekal (1 Yoh. 2; 170. Dengan demikian, cinta memberikan bobot pada seluruh hidup kita dan membuat semua tindakan kita layak untuk menerima balasan dari Allah, entah perbuatan kita demi sesama, Gereja, masyarakat.

     Cinta kepada Allah hanya mungkin dialami bila kita mencintai sesama. Cinta kepada sesama merupakan penghayatan cinta ilahi. Oleh karena itu tidak mengherankan bila perintah besar, cinta kepada Allah dan kepada sesama tidak dapat dipisahkan. Bila cintakasih yang dinyatakan Allah dalam Kristus berbentuk Ekaristi, yaitu memberikan diri dan hidup bagi tebusan banyak orang, maka sudah selayak dan sewajarnyalah bila cinta kita kepada sesama diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

            Saudaraku, dari ketiga keutamaan ilahi ini, kasih menduduki tempat yang utama dalam tata rahmat. Kasih adalah azas dan dasar hidup, awal dan tujuan akhir hidup. Bagi hidup rohani, kasih merupakan ikatan kesempurnaan hidup. Kasih merupakan prinsip hubungan dengan Allah dan sesama. Iman dan harapan semakin menjadi personal sejauh kasih itu menjadi intensif. Kasih itu merupakan kekuatan iman, sebaliknya iman merupakan kekuatan kasih. Kasih dan harapan tak mungkin terpisahkan. Orang yang sungguh mengasihi selalu mempunyai harapan, dan harapan selalu tumbuh dari kasih. Mintalah agar iman, harapan dan cinta kita setiap hari semakin bertambah. (Hd)