KEUTAMAAN
Keutamaan yang diwartakan Yesus pada hari Minggu XV ini dikisahkan lewat perumpamaan tentang penabur: "Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan!"
Adapun 3 hal yang patut kita perhatikan dan renungkan serta hayati sebagai inti dari perumpamaan tentang penabur ini, antara lain:
1. Penabur
2. Tanah
3. Benih
1. Penabur
Yesus adalah penabur yang setia mewartakan damai dan kebaikan (pax et bonum) kepada semua orang, di setiap tempat dan saat. Damai dan kebaikannya bersifat "universal", dan diperuntukkan bagi semua orang. Inilah sebuah semangat "keterbukaan".
Disinilah kita semua diajak untuk bersyukur!
2. Tanah
Ada 4 macam tanah yang diangkatNya:
* ada yang di pinggir jalan
* ada yang berbatu batu
* ada yang di tengah semak duri
* ada juga yang menjadi tanah yang baik.
Dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang beriman, kita kadang menjadi orang dengan empat kombinasi tanah tersebut:
* kadang di pinggir jalan (sibuk dan larut hanyut dengan hiruk pikuk dunia)
* kadang di tanah berbatu (imannya dangkal/tidak mendalam)
* kadang di tengah semak duri (terhimpit oleh banyak kekuatiran dan daya pikat dunia).
* kadang di tanah yang baik (terus berjuang melayani tanpa pamrih dan penuh percaya)
Disinilah kita diajak untuk terus berjuang menjadi “tanah yg baik”, yang subur, yang tidak hanya siap berakar dalam iman dan bertumbuh dalam persaudaraan dan juga selalu berbuah nyata dalam pelayanan. Inilah sebuah semangat “kesaksian” di tengah gereja dan masyarakat: Perjuangkanlah!
3. Benih
Dalam bahasa Latin, benih berarti "semen", dan tempat menabur benih adalah "seminarium". Institusi Gereja mempunyai banyak lembaga untuk "seminari menengah dan seminari tinggi" tapi tidak mempunyai "seminari dasar" karena yakin bahwa "seminari dasar" itu ada di dalam 'keluarga' kita masing-masing.
Disinilah kita diajak untuk kembali 'back to basic' ke 'seminari dasar' yakni keluarga, bersama seluruh anggota keluarga. Bagaimana relasi kita dengan pasangan, anak dan orangtua kita sendiri? Bagaimana kita bisa membuat pelbagai benih damai dan kebaikan itu terus subur melimpah-ruah di tengah keluarga kita masing-masing?
Inilah sesungguhnya sebuah semangat "kebersamaan" yang sangat dibutuhkan dan dirindukan oleh setiap anggota keluarga. Disinilah kita diajak untuk semakin menyadari bahwa iman katolik itu berdimensi sosial, kita menjadi orang beriman tidak bisa berkembang sendirian tetapi dan terutama dan yang utama bersama seluruh anggota keluarga kita masing-masing.Wartakanlah!
Saudaraku, marilah kita menabur kasih setiap hari mulai dari seminari dasar yakni keluarga kita masing-masing sebagai perioritas pertama. Dengan demikian, benih iman yang telah ditabur dalam setiap anggota keluarga akan bertumbuh dan berkembang subur; karena kita saling membina relasi, komunikasi di antara keluarga dalam kebersamaan: doa bersama, makan bersama, rekreasi bersama dlsb. Maka akan terciptalah dalam keluarga: damai-sejahtera, sukacita, kegembiraan karena kasih Kristus tumbuh di setiap pribadi. Karenanya kita akan terdorong untuk selalu bersyukur, berjuang dan mewartakan kasih-Nya. Selamat berhari Minggu bersama Keluarga. Amin.